• Phone: (021)-7418-607
  • info@imz.or.id
Stay Connected:

Oleh: Fatchuri Rosidin
Direktur Inspirasi Melintas Zaman (IMZ)

Hari itu istana Pajajaran heboh. Sebuah pelanggaran tradisi terjadi. Sang putra mahkota, Pangeran Jaya Dewata mempersunting seorang gadis muslimah bernama Nyai Subang Larang, murid Syeikh Hasanudin dari Pondok Quro Karawang. Padahal, sang pangeran diutus ke Karawang untuk mengusir Syeikh Hasanudin. Tapi ia terkesima mendengar lantunan ayat al-Quran yang sedang dibaca oleh Subang Larang.

Syeikh Hasanudin mengijinkan Pangeran Jaya Dewata untuk menikahi Subang Larang dengan satu syarat : sang pangeran harus memberikan kebebasan Subang Larang untuk tetap memeluk Islam dan menjalankan ibadahnya di istana. Sang Pangeran menyanggupi. Maka hari itu, di tahun 1422, Islam masuk ke dalam istana Pajajaran.

Pernikahan itu melahirkan 3 anak: Raden Walang Sungsang yang lahir tahun 1423, Nyi Rara Santang di tahun 1426, dan Raden Kian Santang setahun kemudian. Jaya Dewata pun naik tahta menggantikan ayahnya dan mendapat gelar Sri Baduga Maharaja. Masyarakat Sunda mengenalnya dengan sebutan Prabu Siliwangi.

Tulisan ini bukan tentang sang raja, tapi sang putra mahkota Raden Walang Sungsang. Kisahnya berawal malam itu saat dalam tidurnya, Walang Sungsang mimpi bertemu dengan Rasulullah yang menyuruhnya pergi memperdalam Islam. Walang Sungsang memang sudah lama tertarik dengan Islam yang diajarkan ibunya. Maka esoknya ia meminta ijin sang raja untuk pergi berkelana.

Dari istana Pajajaran di Bogor, Walang Sungsang mengembara ke arah timur mencari guru yang bisa mengajarkan Islam padahanya. Pengembarannya pun sampai di daerah Amparan Jati dan bertemu dengan Ki Gedheng Tapa, syahbandar Muara Jati Cirebon. Ki Gedheng Tapa adalah ayah dari Nyai Subang Larang alias kakek Walang Sungsang sendiri. Oleh sang kakek, ia diperkenalkan ke Syeikh Datuk Kahfi dan menjadi muridnya. Masyarakat Cirebon lebih mengenal Syeikh Datuk Kahfi dengan sebutan Syeikh Nurjati yang berarti guru yang menerangi Jati.

Di istana, Rara Santang merindukan kakaknya. Ia pun pergi menyusul Walang Sungsang dan belajar Islam bersama dibawah bimbingan Syeikh Nurjati. Dan begitulah, cahaya Islam pun mencerahkan mereka, membuka wawasan mereka tentang kehidupan, dan membuka cakrawala dunia yang begitu luas melalui sejarah para khalifah, sultan, dan ulama. Pajajaran ternyata hanyalah kerajaan kecil dibandingkan luasnya kekhilafahan Islam yang terbentang sangat luas. Dari pusatnya di Mesir saat itu di bawah pemerintahan Bani Abbasyiah, Islam telah meluas ke timur hingga Asia Timur dan Gujarat di Asia Selatan, bahkan meluas ke Asia Tenggara hingga Champa (Vietnam), Malaka dan Samudera Pasai. Ke barat, Islam telah menyebar ke seluruh Afrika. Di utara, Islam saat itu telah meluas ke Asia Tengah hingga pintu masuk Eropa.

Maka begitu menyelesaikan pendidikannya di padepokan Syeikh Nurjati, Walang Sungsang dan Rara Santang langsung mengiyakan saran gurunya untuk belajar lebih dalam kepada ulama-ulama di jazirah Arab. Mereka yang oleh Syeikh Nurjati diberikan nama baru Somadullah dan Mudaimah melanjutkan petualangannya ke Mekah dengan menumpang kapal dagang para saudagar muslim dari jazirah Arab yang pulang dari perjalanan membeli rempah-rempah di nusantara. Saat itu perdagangan dunia didominasi para pedagang dari jazirah Arab, Gujarat, dan Cina. Kerajaan-kerajaan di nusantara menjadi produsen terbesar komoditas termahal dunia saat itu: rempah-rempah. Eropa masih belum menemukan jalur perdagangan ke nusantara hingga hanya bisa mendapatkan rempah-rempah dari para pedagang muslim melalui Konstrantinopel.

Babak baru telah dimulai. Di Mekah, Walang Sungsang dan Rara Santang melaksanakan ibadah haji dan menimba ilmu dari para ulama besar zaman itu yang banyak tinggal di Mekah. Selama di kota suci itu, mereka tinggal di rumah adik Syeikh Nurjati yang bernama Syeikh Bayanullah.

Pengembaraan ilmu selama di Mekah telah melengkapi wawasan keislaman dan menguatkan semangat dakwah kakak beradik putra Prabu Siliwangi ini. Sebentar lagi mereka akan mengubah sejarah tanah Sunda. Walang Sungsang pun bersiap untuk kembali ke tanah Sunda dan memulai dakwahnya. Rara Santang, tak ikut menyertainya pulang karena menikah dengan salah seorang pangeran dari khilafah Abbasiyah di Mesir bernama Syarif Abdullah. Gelar syarif di depan namanya menandakan bahwa ia masih keturunan Rasulullah. Rara Santang pun mendapatkan gelar syarifah. Syarifah Mudaimah. Kelak pernikahan mereka melahirkan seorang ulama besar tanah Jawa: Syarif Hidayatullah alias Sunan Gunung Jati. Ternyata, dakwah Islam di nusantara banyak dilakukan oleh keturunan Rasulullah sendiri.

Walang Sungsang kini telah sampai di pulau Jawa. Ia tak pulang ke istana Pajajaran, tapi memilih tinggal bersama gurunya untuk memulai dakwah di tanah Jawa. Kemudian ia pindah ke Caruban, sebuah wilayah yang baru dibuka oleh Ki Danusela, seorang syahbandar pelabuhan Muara Jati. Melihat kecerdasan dan kejujuran Walang Sungsang, Danusela mengangkatnya menjadi orang kepercayaan dan memberinya jabatan Raksa Bumi. Tak hanya itu, Danusela pun mengagumi keluhuran budi Walang Sungsang dan akhirnya masuk Islam.

Sepeninggal Danusela, Walang Sungsang menggantikan posisinya memimpin Caruban dengan gelar Cakraningrat. Di tangan Walang Sungsang, Caruban berkembang dengan cepat dari sebuah desa kecil menjadi desa yang maju, bahkan berkembang menjadi kota pelabuhan yang ramai dan diperhitungkan di pesisir pulau Jawa. Dakwah Walang Sungsang pun semakin meluas. Semakin lama banyak penduduk Caruban yang kemudian masuk Islam.

Kemajuan Caruban terdengar sampai di istana Pajajaran. Dan betapa terkejutnya Prabu Siliwangi begitu mengetahui bahwa arsitek kemajuan Caruban adalah sang putra mahkota Pajajaran sendiri. Prabu Siliwangi pun mengirimkan utusan Pajajaran ke Caruban dan mengangkat Walang Sungsang secara resmi sebagai penguasa Caruban dan wakil pemerintah pusat Pajajaran dengan gelar Sri Manggana. Istana dibangun. Nama Caruban pun berubah menjadi Cirebon.

Dari sebuah desa kecil, kini Cirebon menjadi kota dagang yang maju dan pusat penyebaran Islam terpenting di pesisir Jawa bagian barat. Pengaruhnya terus meluas ke daerah-daerah sekitarnya. Selepas wafatnya Prabu Siliwangi dan memudarnya pamor Pajajaran, Cirebon melepaskan diri dari Pajajaran dan menjadi kerajaan Islam pertama di tanah Pasundan.

Begitulah episode dakwah yang menyirami tanah Sunda. Perpaduan ketajaman visi seorang guru (Syeikh Hasanudin), ketegaran Subang Larang mempertahankan akidah dan mengajarkannya kepada anaknya di tengah kultur Hindu-Budha di istana Pajajaran, semangat mencari kebenaran seorang pemuda Walang Sungsang yang rela meninggalkan kemewahan istana, bertemu dengan kesabaran Syeikh Nurjati yang membimbingnya, telah mengubah sejarah tanah Sunda dan melahirkan kerajaan Cirebon.

Bagaimana dengan kita? Sejarah apa yang akan kita ukir di tanah air? Peran apa yang akan kita pilih? Menjadi pemuda yang meninggalkan kenyamanan demi mencari ilmu? Atau menjadi ibu yang tegar menjaga akidah dan mengajarkannya kepada anak-anak? Atau menjadi guru yang menginspirasi anak-anak muda? END

Tulisan lainnya bisa Anda baca di www.fatchuri.com

Inspirasi Melintas Zaman (IMZ Consulting) merupakan lembaga _social enterprise_ yang membantu organisasi profit dan nirlaba di bidang pengembangan SDM dan pemberdayaan masyarakat berbasis nilai-nilai spiritual.

Add Your Comments

Your email address will not be published. Required fields are marked *

First Name*
Subject*
Email*
Your Comments