• Phone: 085215646958
  • training@imz.or.id
Stay Connected:

SHOKTI DOI
Fatchuri Rosidin (Direktur IMZ)

Siang itu di bulan Oktober 2005, di sebuah restoran di Paris, Muhammad Yunus — pendiri Grameen Bank dan penerima penghargaan Nobel Perdamaian asal Bangladesh — sedang makan siang bersama CEO Danone Franck Riboud sambil berdiskusi tentang masalah kemiskinan. Dalam pertemuan yang hanya berlangsung selama 90 menit itu, Yunus melontarkan tantangan yang provokatif. Ia bertanya kepada Riboud:
“Maukah Anda mendirikan perusahaan bersama saya untuk mengatasi masalah kekurangan gizi di Bangladesh?”

Riboud heran dengan ajakan Yunus dan balik bertanya, “Mengapa Anda mengajak saya mendirikan perusahaan untuk mengatasi masalah kekurangan gizi, bukan mendirikan yayasan sosial?”

Jawaban Yunus kemudian dikenang dalam sejarah bisnis modern. Ia menjawab:
“A charity dollar has only one life; a social business dollar can be invested over and over again.” (Satu dolar amal hanya punya satu kehidupan; satu dolar bisnis sosial bisa diinvestasikan berulang-ulang).

Yunus menjelaskan ide kongkritnya: membuat produk yogurt yang sangat murah, namun diperkaya dengan mikronutrien (zat besi, seng, vitamin A) yang sangat dibutuhkan anak-anak malnutrisi di Bangladesh. Yunus menekankan bahwa perusahaan ini bukan donasi, ia harus bisa menutup biayanya sendiri dari penjualan produk (self-sustaining) . Tapi mereka tidak boleh mengambil keuntungan sepeser pun. Semua keuntungan harus diinvestasikan kembali ke perusahaan untuk memperluas jangkauan sosialnya.

Alih-alih berkonsultasi dengan dewan direksi atau tim legalnya, Franck Riboud langsung menjawab, “Ayo kita lakukan.”

Sejarah pun dimulai. Perusahaan itu berdiri dengan nama Grameen Danone Foods . November 2006, pabrik pertama mulai beroperasi di Bogra, Bangladesh. Bukan pabrik dengan teknologi mutakhir, tapi pabrik padat karya yang bisa menyerap banyak tenaga kerja dari masyarakat bawah. Produknya diberi nama Shokti Doi (Yogurt Energi) dengan kemasan yang ramah lingkungan. Bahan baku utamanya berupa susu yang dibeli dari peternak kecil lokal. Produknya dijual dengan harga sangat murah, dipasarkan dengan cara door to door oleh ibu-ibu desa yang disebut Grameen Ladies untuk memberi mereka penghasilan tambahan.

Apa yang dilakukan Yunus dan Franck Riboud adalah contoh paling ikonik tentang Social Business atau Social Enterprise . Grameen Danone Foods didirikan bukan untuk mencari keuntungan finansial layaknya perusahaan pada umumnya, tapi bertujuan untuk mengatasi masalah gizi buruk yang menimpa anak-anak di Bangladesh.

Social Enterprise juga berbeda dengan yayasan sosial. Untuk bisa membantu orang lain, sebuah yayasan sosial mengandalkan donasi. Social Enterprise tidak mengumpulkan donasi, tapi membuat bisnis yang produknya ditujukan untuk menyelesaikan masalah sosial. Yunus dan Riboud menginvestasikan dana dan mendirikan perusahaan bersama untuk mengatasi gizi buruk, dengan menciptakan produk yogurt dan menjualnya dengan sangat murah, sekedar bisa menutup biaya produksi dan memperluas jangkauan sosialnya.

Di Indonesia, Dompet Dhuafa juga melakukannya. Yayasan sosial itu mendirikan beberapa Social Enterprise yang bekerja mengemban misi sosial tapi dengan cara yang berbeda dengan yayasan induknya. Salah satunya adalah PT Mandiri Insan Berdaya (MIB). Perusahaan ini didirikan untuk mengatasi kemiskinan dengan memberikan lapangan pekerjaan bagi para pemuda putus sekolah dari keluarga dhuafa. Mereka diberikan pelatihan vokasional tentang reparasi mesin sepeda motor, kemudian diangkat menjadi montir sepeda motor di bengkel-bengkel yang dikelola oleh PT MIB. Para pemuda ini bahkan dibekali dengan skill entrepreneurship agar bisa mengelola bengkel sendiri di kemudian hari.

Di tahun 2020 saya diminta oleh Dompet Dhuafa untuk memimpin sebuah Social Enterprise bernama PT Inspirasi Melintas Zaman (IMZ), hasil transformasi dari Institut Manajemen Zakat yang juga disingkat IMZ. Organisasi ini didirikan dengan sebuah misi sosial: mengembangkan dunia filantropi melalui pelatihan, konsultasi, riset, dan penerbitan. Dengan menjadi Social Enterprise, IMZ tidak hidup dari donasi, tapi dari jasa yang diberikannya kepada klien. Seluruh keuntungan IMZ diinvestasikan kembali untuk memperluas manfaat sosialnya.

Jadi sebuah misi sosial bisa dicapai melalui banyak cara. Yayasan atau perusahaan hanyalah bentuk fisiknya. Kita bisa bekerja mewujudkan misi sosial dengan menjadi filantropis di lembaga sosial atau menjadi Social Enterpreuneur di sebuah bisnis sosial atau Social Enterprise . Bukan bentuk lembaga yang menentukan kualitas pengabdian kita, melainkan seberapa besar niat tulus yang kita implementasikan menjadi detail operasional lembaga tersebut.

FR-120526

Add Your Comments

Your email address will not be published. Required fields are marked *

First Name*
Subject*
Email*
Your Comments