• Phone: 085215646958
  • training@imz.or.id
Stay Connected:

Pejuang Zakat Nasional Itu Telah Berpulang, tetapi Perjuangannya Tidak Akan Pernah Usai
Mengenang Ustadz Angga Nugraha, S.Kom.I.

Oleh: H. M. Arifin Purwakananta

Ada manusia yang dikenang karena kekuasaan yang pernah dimilikinya. Ada yang dikenang karena kekayaan yang berhasil dikumpulkannya. Namun ada pula yang akan selalu dikenang karena jejak pengabdiannya yang tulus, karena hidupnya dipersembahkan untuk menghadirkan manfaat bagi sesama. Ustadz Angga Nugraha, S.Kom.I. adalah salah seorang di antaranya.

Kabar wafatnya menghadirkan kesedihan yang mendalam, bukan hanya bagi keluarga dan sahabat-sahabat terdekatnya, tetapi juga bagi keluarga besar gerakan zakat Indonesia. Kita kehilangan seorang pemimpin, seorang sahabat, sekaligus seorang pejuang yang mengabdikan hidupnya untuk membangun ekosistem zakat dan pemberdayaan umat.

Saya memang tidak setiap hari bersama beliau. Namun dalam berbagai kesempatan bertemu, berdiskusi, menghadiri rapat, maupun bekerja sama dalam berbagai program, saya selalu menemukan sosok yang sama: rendah hati, santun, ramah, bersahabat, dan penuh semangat. Beliau bukan pribadi yang senang menjadi pusat perhatian. Beliau lebih memilih bekerja daripada berbicara tentang dirinya sendiri.

Sebagai Direktur Utama Lembaga Amil Zakat Nasional Persatuan Islam (PERSIS), beliau memimpin dengan keyakinan bahwa zakat bukan sekadar kewajiban ibadah, melainkan instrumen strategis untuk membangun peradaban. Karena itulah beliau mencurahkan tenaga, pikiran, dan waktunya untuk memperkuat tata kelola zakat, mengembangkan kelembagaan, dan memastikan zakat mampu menghadirkan perubahan nyata bagi kehidupan masyarakat.

Pengabdiannya tidak berhenti di lembaga yang dipimpinnya. Di Forum Zakat (FOZ) beliau menjadi bagian dari ikhtiar memperkuat sinergi lembaga-lembaga amil zakat di Indonesia. Di POROZ, beliau ikut membangun kolaborasi antarlembaga zakat berbasis organisasi kemasyarakatan Islam. Bersama BAZNAS, berbagai LAZ, dunia usaha, serta banyak mitra strategis lainnya, beliau aktif mengembangkan program-program pemberdayaan masyarakat yang memberikan manfaat nyata bagi umat.

Bagi saya, salah satu kekuatan terbesar Ustadz Angga adalah kemampuannya membangun jembatan. Di tengah beragam latar belakang organisasi, pandangan, dan kepentingan, beliau selalu memilih jalan kolaborasi. Beliau memahami bahwa tantangan umat terlalu besar jika dihadapi sendiri. Karena itu, beliau lebih suka mempertemukan daripada mempertentangkan, lebih memilih memperkuat daripada memperlemah. Itulah watak seorang pejuang.

Sering kali masyarakat hanya melihat hasil akhir dari sebuah gerakan. Yang tidak terlihat adalah perjalanan panjang di belakangnya: rapat-rapat yang melelahkan, perjalanan yang panjang, diskusi yang tidak mengenal waktu, hingga ikhtiar mencari titik temu di antara berbagai kepentingan. Ustadz Angga menjalaninya dengan penuh kesabaran. Beliau bekerja tanpa banyak meminta pengakuan, karena baginya keberhasilan umat jauh lebih penting daripada popularitas pribadi.

Kepergian beliau menyisakan ruang kosong yang tidak mudah diisi. Dunia zakat kehilangan salah satu putra terbaiknya. Namun saya percaya, seorang pejuang sejati tidak pernah benar-benar pergi. Ia meninggalkan warisan yang jauh lebih berharga daripada jabatan dan penghargaan, yaitu keteladanan, nilai-nilai perjuangan, dan inspirasi yang akan terus hidup di hati orang-orang yang mengenalnya.

Saya berharap suatu hari akan lahir sebuah buku atau biografi yang mendokumentasikan perjalanan hidup Ustadz Angga Nugraha. Bukan untuk mengultuskan seseorang, melainkan agar generasi mendatang mengetahui bahwa gerakan zakat Indonesia dibangun oleh orang-orang yang bekerja dengan penuh keikhlasan. Mereka mungkin tidak selalu tampil di depan panggung, tetapi merekalah yang meletakkan batu-batu fondasi bagi kemajuan zakat nasional.

Generasi muda amil zakat perlu mengenal sosok-sosok seperti beliau. Sebab sejarah bukan hanya ditulis oleh mereka yang terkenal, melainkan juga oleh mereka yang dengan diam-diam mengubah keadaan melalui kerja keras, integritas, dan pengabdian yang panjang.

Rasulullah SAW bersabda:

“Sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi manusia lainnya.”

Saya meyakini, Ustadz Angga telah mengabdikan hidupnya untuk mewujudkan pesan Rasulullah itu. Kini Allah SWT telah memanggil beliau kembali. Tugas kita bukan sekadar mengenangnya, tetapi melanjutkan cita-cita dan perjuangan yang telah beliau mulai.

Seorang pejuang tidak diukur dari seberapa lama ia hidup, tetapi dari seberapa besar manfaat yang ia tinggalkan. Ustadz Angga Nugraha telah membuktikan bahwa usia boleh berhenti, tetapi pengabdian tidak pernah berakhir.

Selamat jalan, sahabat.

Semoga Allah SWT menerima seluruh amal ibadah dan pengabdianmu sebagai amal saleh yang terus mengalir pahalanya. Semoga Allah mengampuni segala khilafmu, melapangkan alam kuburmu, mengangkat derajatmu di sisi-Nya, serta menghimpunkanmu bersama para nabi, para shiddiqin, para syuhada, dan orang-orang saleh.

Innā lillāhi wa innā ilaihi rāji’ūn.

Al-Fatihah.

*) Penulis adalah Deputi 1 BAZNAS RI, Direktur IMZ 2006.

Add Your Comments

Your email address will not be published. Required fields are marked *

First Name*
Subject*
Email*
Your Comments