• Phone: (021)-7418-607
  • info@imz.or.id
Stay Connected:

Oleh: Fatchuri Rosidin
Direktur Inspirasi Melintas Zaman (IMZ)

Indonesia ternyata menempati peringkat ketiga di dunia sebagai negeri tanpa ayah atau _fatherless country_. Artinya, anak-anak Indonesia tumbuh dengan sangat sedikit sentuhan ayah. Pernyataan ini disampaikan oleh Khofifah Indar Parawansa saat menjadi menteri sosial di tahun 2017.

Satu tingkat di atas Indonesia, ada Amerika Serikat sebagai runner up. Di sana, 1 dari 4 anak hidup tanpa ayah. Ini terjadi kebanyakan karena tingginya tingkat perceraian dan hubungan tanpa pernikahan. Melihat fenomena ini, Department of Health & Human Services Amerika melakukan serangkaian riset untuk melihat efek kurangnya peran ayah. Hasilnya mengerikan.

Anak-anak yang tidak dekat dengan ayahnya lebih rentan terhadap penyakit fisik dan mental, kejahatan pornografi, dan prostitusi. Anak laki-lakinya cenderung terlibat dalam perkara kriminal, sementara anak perempuannya rawan mengalami kehamilan remaja. Mereka juga lebih mudah terlibat dalam masalah alkohol dan *putus sekolah. Mereka pun merokok 4 kali lipat lebih banyak dibandingkan anak-anak yang dekat dengan ayahnya. Laki-laki pelaku KDRT umumnya memiliki ayah yang juga pelaku KDRT, dan anak-anak perempuan mereka cenderung mendapat pasangan pelaku KDRT.

_Fatherless country_ bukan hanya masalah Amerika dan Indonesia, tapi sudah menjadi masalah global. Ada banyak riset di berbagai negara yang dilakukan sepanjang tahun 2007 hingga 2012 yang menyoroti masalah ini. Penelitian yang dilakukan Psikolog keluarga Harriet Lerner di tahun 2011 menemukan bahwa minimnya peran ayah akan melahirkan anak-anak yang memiliki harga diri yang rendah. Profesor Edward Kurk dari University of British Columbia menemukan absennya ayah juga menyebabkan anak tidak terlatih mengontrol dirinya. Anak-anak yang besar tanpa sentuhan ayah ternyata juga tidak terbiasa mengambil resiko (William, 2011).

Menarik melihat fenomena _fatherless_ di Indonesia. Kurangnya keterlibatan ayah sebagian besar bukan karena perceraian, tapi karena budaya. Kultur di Indonesia cenderung memposisikan laki-laki sebagai pencari nafkah yang bekerja di luar rumah sehingga tidak perlu dibebani dengan tangisan anak. Di sebagian masyarakat, ada budaya yang mengajarkan anak-anak untuk tidak mengganggu ayah istirahat karena sudah lelah seharian bekerja.

Ibarat burung, anak butuh kedua sayap untuk bisa terbang. Kedua sayap itu adalah ayah dan ibunya. Secara fitrah, laki-laki dan perempuan membesarkan anaknya dengan cara yang berbeda. Ibu cenderung feminin, berhati lembut, dan perasa. Sifat-sifat ini mempengaruhi nilai-nilai yang tertransfer saat mendidik anak. Anak yang dididik oleh ibunya akan dominan feminitasnya: peka perasaannya, mudah berempati, mengalah, dan mengambil keputusan dengan perasaannya.

Sebaliknya, ayah adalah supplier maskulinitas bagi anak-anak. Mereka mengambil keputusan dengan logika, kadang cenderung mengabaikan perasaan. Maka dari ayahnya, anak akan belajar bagaimana mempertahankan ego, mempertimbangkan masalah dengan matang, mengambil keputusan dengan logika, serta mengambil resiko dan tanggung jawab.

Tanpa ibu, anak tak berkembang perasaannya, kasar, dan sulit berempati. Tanpa ayah, anak tak terlatih mengembangkan logika dan pengambilan keputusan. Maka tak heran, anak-anak yang besar dengan sedikit sentuhan ayahnya cenderung memiliki kepribadian yang tidak matang, Mereka cenderung kekanak-kanakan atau childish. Mereka juga kesulitan menetapkan identitas seksua, cenderung feminin atau justru mencari kompensasi menjadi _hypermasculin_. Anak-anak yang sedikit pengaruh ayahnya juga cenderung tidak mandiri, tidak tegas, dan kurang bisa mengambil keputusan. Anak perempuan yang tidak dekat dengan ayahnya setelah dewasa kesulitan menentukan pasangan yang tepat untuknya karena tak menemukan sosok laki-laki dewasa yang bertanggung jawab dan melindunginya di rumah.

Dampak-dampak tersebut dapat berkembang menjadi masalah yang lebih besar, seperti kesulitan menetapkan identitas seksual sehingga membuat anak lebih mudah terlibat LGBT. Ketidakmatangan kepribadian karena kurangnya sentuhan ayah dapat membuat mereka lebih mudah jatuh sebagai pelaku maupun korban KDRT saat berumah tangga.

Anak-anak di Indonesia membutuhkan lebih banyak sentuhan ayah. Di rumah mereka lebih banyak dididik oleh ibunya. Masuk sekolah di play group dan TK gurunya juga perempuan. Di SD hingga SMP yang merupakan usia-usia kritis dalam pembentukan kepribadian, guru-guru yang mendidik mereka pun sebagian besar perempuan.

Maka sesibuk apapun dengan pekerjaan di luar rumah, *para ayah harus lebih banyak meluangkan waktu untuk anak-anaknya. Ayah perlu lebih banyak bermain dengan anak-anaknya yang masih kecil. Saat anak memasuki usia SD, ayah perlu lebih banyak membersamai anak laki-lakinya agar membantu terbentuknya sifat maskulinitas dan identitas gender. Para ayah juga perlu meluangkan waktu lebih banyak untuk anak perempuannya saat memasuki usia remaja agar anak gadisnya bisa melihat sosok laki-laki dewasa yang bertanggung jawab dan mencintainya dengan tulus sehingga bisa membedakan cinta modus dari laki-laki lain.

Ternyata, tugas membersamai dan mendidik anak tak kalah penting dibandingkan bekerja di luar rumah. Jangan biarkan anak-anak kita seperti burung dengan sayap sebelah. Mereka butuh kedua sayapnya untuk bisa terbang dan menaklukkan dunia.

Para ayah, ada di manakah engkau? END

Tulisan ini merupakan versi tertulis dari materi pelatihan Menjadi Orang Tua Hebat, dibuat menjadi tulisan berseri agar bisa dinikmati lebih banyak orang. Tulisan-tulisan lain dapat dilihat di www.fatchuri.com

Inspirasi Melintas Zaman (IMZ Consulting) merupakan lembaga social enterprise yang membantu organisasi profit dan nirlaba di bidang pengembangan SDM dan pemberdayaan masyarakat berbasis nilai-nilai spiritual.

Add Your Comments

Your email address will not be published. Required fields are marked *

First Name*
Subject*
Email*
Your Comments