• Phone: (021)-7418-607
  • info@imz.or.id
Stay Connected:

Oleh : Fatchuri Rosidin
Direktur Inspirasi Melintas Zaman (IMZ)

Namanya Syarif Hidayatullah. Darahnya darah biru. Ayahnya, Syarif Abdullah adalah seorang sultan dari dinasti Abbasyiah. Nasabnya sampai kepada Rasulullah di garis ke-22 hingga gelar syarif melekat pada sang ayah. Kakek buyutnya, Jamaludin Akbar al-Husaini adalah putra Ahmad Syah Jalaluddin Gubernur Malabar, sebuah propinsi yang masuk dalam wilayah kesultanan Delhi. Kesultanan Delhi sendiri dipimpin oleh kakaknya: Amir Syah Jalaluddin.

Dari jalur ibunya, Syarif Hidayatullah juga keturunan bangsawan. Ibunya bernama Syarifah Mudaimah. Nama aslinya Nyai Rara Santang, putri kedua Prabu Siliwangi dari Pajajaran. Setelah mimpi bertemu Rasulullah, ibunya meninggalkan istana dan belajar Islam bersama kakaknya, Raden Walang Sungsang di Cirebon. Mereka berguru kepada seorang ulama bernama Syeikh Nurjati.

Sebelum usianya genap 20 tahun, Syarif Hidayatullah telah telah hafal seluruh isi al-Qur’an, ribuan hadits, menyelesaikan pendidikan Islam, sejarah, dan ilmu pemerintahan di universitas terbaik dunia saat itu: Al-Azhar Mesir. Untuk menyempurnakan ilmunya, ia pergi ke Mekah dan berguru selama 2 tahun pada ulama-ulama terkemuka di sana.

Hari itu, di usianya yang ke-22, sang Ibu berpesan kepadanya, “Ananda Hidayat, bersyukurlah atas nikmat hidayah yang diberikan Allah kepada kita. Itulah arti dari namamu. Dan jangan pernah melupakan asal-usulmu. Kerajaan dan rakyat Pajajaran belum tersentuh dakwah. Pulanglah ke Pajajaran dan berdakwalah di sana. Ajak kakekmu, Prabu Siliwangi, agar merasakan kedamaian Islam.”

Ini bukan nasehat pertama yang ia dengar. Tapi disampaikan lagi tepat setelah ia menyelesaikan pendidikannya, sepertinya ibunda Mudaimah ingin menyatakan bahwa waktunya telah tiba. Hidayat pun telah menantikan kesempatan ini. Selain keturunan bangsawan, dalam darahnya juga mengalir semangat dakwah para ulama. Kakek buyutnya, Syeikh Jamaludin al-Husaini meninggalkan istana dan memilih menjadi ulama, berpetualang mengelilingi dunia bersama Syeikh Thanauddin, adiknya, dan menyebarkan Islam di Kelantan, Champa, Samudera Pasai, Jawa, dan Sulawesi. Ia bahkan melepaskan anak sulungnya, Maulana Malik Ibrahim, pergi seorang diri di usia muda dan berdakwah di wilayah Majapahit.

“Ibu, saya telah menyelesaikan pendidikan di Mesir dan Mekah. Insya Allah saya siap untuk memulai dakwah di tanah Pasundan seperti pesan ibunda selama ini.” Jawab Hidayat.

Syarifah Mudaimah tersenyum bahagia mendengar kata-kata putranya. Saat berangkat ke Mekah bersama kakaknya, Raden Walang Sungsang, untuk berhaji dan menimba ilmu mengikuti nasehat Syeikh Nurjati, ia berdoa agar bisa kembali ke Pasundan dan mengajak ayahnya, Prabu Siliwangi, untuk memeluk Islam. Kini saat itu telah tiba. Ia akan kembali bersama anaknya untuk berdakwah kepada ayahnya dan rakyat Pajajaran.

Hari yang bersejarah itu pun tiba. Tahun 1470 Syarif Hidayatullah bersama sang ibu mendarat di pelabuhan Muara Jati Cirebon. Cirebon dipilih karena di kota itu Raden Walang Sungsang telah menjadi ulama besar sekaligus pemimpin pemerintahan Cirebon dengan gelar Cakraningrat. Syarif Hidayatullah memulai dakwahnya dengan mendirikan pesantren di daerah Gunung Jati. Sejak itu, ia dikenal sebagai Sunan Gunung Jati.

Dakwah Syarif Hidayatullah dengan cepat meluas ke luar Cirebon. Di tahun 1475, Syarif Hidayatullah berdakwah di Wahanten Pasisir, sebuah daerah pelabuhan yang kini masuk dalam wilayah Serang Banten. Dakwahnya yang simpatik menarik perhatian pemimpin Wahanten yang kemudian masuk Islam dan menikahkan anaknya dengan Syarif Hidayatullah. Dari pernikahan ini, lahirlah Maulana Hasanudin di tahun 1478 yang kelak menjadi Sultan Banten pertama.

Di tahun 1479, Raden Walang Sungsang wafat. Syarif Hidayatullah pun kembali ke Cirebon dan menggantikan posisi Walang Sungsang sebagai Sultan Cirebon. Di tahun yang sama, ia juga ditetapkan sebagai pimpinan Wali Songo. Keilmuan, kebijaksanaan, dan kepemimpinannya membuat para wali secara aklamasi memintanya menjadi pemimpin dakwah di tanah Jawa.

Meskipun dakwahnya telah menyebar luas, Syarif Hidayatullah masih gelisah. Kakeknya, Prabu Siliwangi belum bersedia masuk Islam. Ia menumpahkan kegundahannya pada sang Ibu.

“Prabu Siliwangi sangat mencintaimu dan mengetahui kemuliaan Islam yang kau dakwahkan kepadanya. Tapi kekhawatiran akan guncangan yang menimpa Pajajaran membuatnya enggan bersyahadat. Jangan putus asa. Berdoalah agar Allah memberikan hidayah kepada kakekmu,” hibur sang Ibu menenangkan.

Di tahun 1487 rapat Wali Songo menetapkan Demak sebagai pusat dakwah di pulau Jawa. Ini juga sejalan dengan pendapat Sunan Ampel, sesepuh para wali. Posisi Demak persis di antara Majapahit dan Pajajaran sehingga memudahkan koordinasi dakwah di Jawa bagian timur dan barat. Para wali pun mendirikan kesultanan Demak. Raden Patah, ulama muda yang juga putra raja Brawijaya V dari Majapahit dan menantu Sunan Ampel, dinobatkan sebagai sultan Demak. Syarif Hidayatullah bahkan menyatakan Cirebon sebagai bagian dari kesultanan Demak dan melepaskan diri dari Pajajaran.

Syarif Hidayatullah telah mengubah sejarah tanah Pasundan. Cucu Prabu Siliwangi ini telah mengubah sejarah Pasundan dari masyarakat Hindu-Budha menjadi masyarakat Islam. Sejarah kerajaan Hindu-Budha yang berpusat di Bogor berganti menjadi kerajaan Islam dengan Cirebon, Demak, dan Banten sebagai pusatnya.

Sang Ibu, Syarifah Mudaimah alias Nyai Rara Santang, bisa beristirahat dengan tenang. Perjuangan meninggalkan istana Pajajaran, menimba ilmu hingga ke jazirah Arab, dan dengan sabar mendidik putranya telah membuahkan hasil: bersemainya Islam di bumi Pasundan. Nyai Rara Santang juga bersyukur memiliki seorang ibu yang tegar dengan keislamannya: Nyai Subang Larang. Prabu Siliwangi yang semula datang untuk membubarkan padepokan Syeikh Hasanudin, guru Subang Larang, terpesona dengan bacaan al-Quran Subang Larang. Ia bahkan menjadikan Subang Larang sebagai permaisurinya. Subang Larang mendidik ketiga anaknya dengan agama Islam di tengah kultur Hindu-Budha istana Pajajaran.

Wahai para ibu jaman now, adakah akan lahir dari rahimmu, putra-putri Indonesia, yang akan meneruskan dakwah Syarif Hidayatullah dan menulis sejarah Indonesia berikutnya? Adakah yang setegar Subang Larang yang mendidik anaknya dengan akidah di tengah lingkungan yang tak mudah? Adakah yang segigih Rara Santang yang meninggalkan kemewahan untuk mempelajari Islam sebagai bekal mendidik anak-anak masa depan? END

Tulisan-tulisan lain dapat dilihat di www.fatchuri.com

Inspirasi Melintas Zaman (IMZ Consulting) merupakan lembaga social enterprise yang membantu organisasi profit dan nirlaba di bidang pengembangan SDM dan pemberdayaan masyarakat berbasis nilai-nilai spiritual.

Kembalinya Cucu Prabu Siliwangi
Oleh : Fatchuri Rosidin

Namanya Syarif Hidayatullah. Darahnya darah biru. Ayahnya, Syarif Abdullah adalah seorang sultan dari dinasti Abbasyiah. Nasabnya sampai kepada Rasulullah di garis ke-22 hingga gelar syarif melekat pada sang ayah. Kakek buyutnya, Jamaludin Akbar al-Husaini adalah putra Ahmad Syah Jalaluddin Gubernur Malabar, sebuah propinsi yang masuk dalam wilayah kesultanan Delhi. Kesultanan Delhi sendiri dipimpin oleh kakaknya: Amir Syah Jalaluddin.

Dari jalur ibunya, Syarif Hidayatullah juga keturunan bangsawan. Ibunya bernama Syarifah Mudaimah. Nama aslinya Nyai Rara Santang, putri kedua Prabu Siliwangi dari Pajajaran. Setelah mimpi bertemu Rasulullah, ibunya meninggalkan istana dan belajar Islam bersama kakaknya, Raden Walang Sungsang di Cirebon. Mereka berguru kepada seorang ulama bernama Syeikh Nurjati.

Sebelum usianya genap 20 tahun, Syarif Hidayatullah telah telah hafal seluruh isi al-Qur’an, ribuan hadits, menyelesaikan pendidikan Islam, sejarah, dan ilmu pemerintahan di universitas terbaik dunia saat itu: Al-Azhar Mesir. Untuk menyempurnakan ilmunya, ia pergi ke Mekah dan berguru selama 2 tahun pada ulama-ulama terkemuka di sana.

Hari itu, di usianya yang ke-22, sang Ibu berpesan kepadanya, “Ananda Hidayat, bersyukurlah atas nikmat hidayah yang diberikan Allah kepada kita. Itulah arti dari namamu. Dan jangan pernah melupakan asal-usulmu. Kerajaan dan rakyat Pajajaran belum tersentuh dakwah. Pulanglah ke Pajajaran dan berdakwalah di sana. Ajak kakekmu, Prabu Siliwangi, agar merasakan kedamaian Islam.”

Ini bukan nasehat pertama yang ia dengar. Tapi disampaikan lagi tepat setelah ia menyelesaikan pendidikannya, sepertinya ibunda Mudaimah ingin menyatakan bahwa waktunya telah tiba. Hidayat pun telah menantikan kesempatan ini. Selain keturunan bangsawan, dalam darahnya juga mengalir semangat dakwah para ulama. Kakek buyutnya, Syeikh Jamaludin al-Husaini meninggalkan istana dan memilih menjadi ulama, berpetualang mengelilingi dunia bersama Syeikh Thanauddin, adiknya, dan menyebarkan Islam di Kelantan, Champa, Samudera Pasai, Jawa, dan Sulawesi. Ia bahkan melepaskan anak sulungnya, Maulana Malik Ibrahim, pergi seorang diri di usia muda dan berdakwah di wilayah Majapahit.

“Ibu, saya telah menyelesaikan pendidikan di Mesir dan Mekah. Insya Allah saya siap untuk memulai dakwah di tanah Pasundan seperti pesan ibunda selama ini.” Jawab Hidayat.

Syarifah Mudaimah tersenyum bahagia mendengar kata-kata putranya. Saat berangkat ke Mekah bersama kakaknya, Raden Walang Sungsang, untuk berhaji dan menimba ilmu mengikuti nasehat Syeikh Nurjati, ia berdoa agar bisa kembali ke Pasundan dan mengajak ayahnya, Prabu Siliwangi, untuk memeluk Islam. Kini saat itu telah tiba. Ia akan kembali bersama anaknya untuk berdakwah kepada ayahnya dan rakyat Pajajaran.

Hari yang bersejarah itu pun tiba. Tahun 1470 Syarif Hidayatullah bersama sang ibu mendarat di pelabuhan Muara Jati Cirebon. Cirebon dipilih karena di kota itu Raden Walang Sungsang telah menjadi ulama besar sekaligus pemimpin pemerintahan Cirebon dengan gelar Cakraningrat. Syarif Hidayatullah memulai dakwahnya dengan mendirikan pesantren di daerah Gunung Jati. Sejak itu, ia dikenal sebagai Sunan Gunung Jati.

Dakwah Syarif Hidayatullah dengan cepat meluas ke luar Cirebon. Di tahun 1475, Syarif Hidayatullah berdakwah di Wahanten Pasisir, sebuah daerah pelabuhan yang kini masuk dalam wilayah Serang Banten. Dakwahnya yang simpatik menarik perhatian pemimpin Wahanten yang kemudian masuk Islam dan menikahkan anaknya dengan Syarif Hidayatullah. Dari pernikahan ini, lahirlah Maulana Hasanudin di tahun 1478 yang kelak menjadi Sultan Banten pertama.

Di tahun 1479, Raden Walang Sungsang wafat. Syarif Hidayatullah pun kembali ke Cirebon dan menggantikan posisi Walang Sungsang sebagai Sultan Cirebon. Di tahun yang sama, ia juga ditetapkan sebagai pimpinan Wali Songo. Keilmuan, kebijaksanaan, dan kepemimpinannya membuat para wali secara aklamasi memintanya menjadi pemimpin dakwah di tanah Jawa.

Meskipun dakwahnya telah menyebar luas, Syarif Hidayatullah masih gelisah. Kakeknya, Prabu Siliwangi belum bersedia masuk Islam. Ia menumpahkan kegundahannya pada sang Ibu.

“Prabu Siliwangi sangat mencintaimu dan mengetahui kemuliaan Islam yang kau dakwahkan kepadanya. Tapi kekhawatiran akan guncangan yang menimpa Pajajaran membuatnya enggan bersyahadat. Jangan putus asa. Berdoalah agar Allah memberikan hidayah kepada kakekmu,” hibur sang Ibu menenangkan.

Di tahun 1487 rapat Wali Songo menetapkan Demak sebagai pusat dakwah di pulau Jawa. Ini juga sejalan dengan pendapat Sunan Ampel, sesepuh para wali. Posisi Demak persis di antara Majapahit dan Pajajaran sehingga memudahkan koordinasi dakwah di Jawa bagian timur dan barat. Para wali pun mendirikan kesultanan Demak. Raden Patah, ulama muda yang juga putra raja Brawijaya V dari Majapahit dan menantu Sunan Ampel, dinobatkan sebagai sultan Demak. Syarif Hidayatullah bahkan menyatakan Cirebon sebagai bagian dari kesultanan Demak dan melepaskan diri dari Pajajaran.

Syarif Hidayatullah telah mengubah sejarah tanah Pasundan. Cucu Prabu Siliwangi ini telah mengubah sejarah Pasundan dari masyarakat Hindu-Budha menjadi masyarakat Islam. Sejarah kerajaan Hindu-Budha yang berpusat di Bogor berganti menjadi kerajaan Islam dengan Cirebon, Demak, dan Banten sebagai pusatnya.

Sang Ibu, Syarifah Mudaimah alias Nyai Rara Santang, bisa beristirahat dengan tenang. Perjuangan meninggalkan istana Pajajaran, menimba ilmu hingga ke jazirah Arab, dan dengan sabar mendidik putranya telah membuahkan hasil: bersemainya Islam di bumi Pasundan. Nyai Rara Santang juga bersyukur memiliki seorang ibu yang tegar dengan keislamannya: Nyai Subang Larang. Prabu Siliwangi yang semula datang untuk membubarkan padepokan Syeikh Hasanudin, guru Subang Larang, terpesona dengan bacaan al-Quran Subang Larang. Ia bahkan menjadikan Subang Larang sebagai permaisurinya. Subang Larang mendidik ketiga anaknya dengan agama Islam di tengah kultur Hindu-Budha istana Pajajaran.

Wahai para ibu jaman now, adakah akan lahir dari rahimmu, putra-putri Indonesia, yang akan meneruskan dakwah Syarif Hidayatullah dan menulis sejarah Indonesia berikutnya? Adakah yang setegar Subang Larang yang mendidik anaknya dengan akidah di tengah lingkungan yang tak mudah? Adakah yang segigih Rara Santang yang meninggalkan kemewahan untuk mempelajari Islam sebagai bekal mendidik anak-anak masa depan? END

Tulisan-tulisan lain dapat dilihat di www.fatchuri.com

Inspirasi Melintas Zaman (IMZ Consulting) merupakan lembaga social enterprise yang membantu organisasi profit dan nirlaba di bidang pengembangan SDM dan pemberdayaan masyarakat berbasis nilai-nilai spiritual.

Add Your Comments

Your email address will not be published. Required fields are marked *

First Name*
Subject*
Email*
Your Comments