• Phone: (021)-7418-607
  • info@imz.or.id
Stay Connected:

Ciputat, 23 Desember 2011

Oleh M. Fuad Nasar

“Rumah tangga muslim tidak boleh hancur oleh kemiskinan dan kemelaratan. Semua harus giat dan rajin mencari rezeki pada jalan yang halal. Yang kaya memberi karena Allah dan yang miskin menerima karena Allah.” Demikian dikatakan oleh Ibu Aisjah Dachlan (almh), salah satu tokoh badan penasihat perkawinan (BP4) dalam buku Membina Rumah Tangga Bahagia (1969). Sampai saat ini belum banyak penelitian sosial yang mengekspos persoalan kemiskinan dalam kaitan dengan kasus perceraian, kekerasan dalam rumah tangga, dan aspek lain yang terkait dengan ketahanan keluarga. Namun dari realitas yang kita lihat, sangat jelas kemiskinan berdampak serius pada ketahanan keluarga dan kualitas hidup. Di samping itu, rumah tangga miskin menghadapi kendala kemampuan dan akses yang terbatas untuk merawat atau memberdayakan sekiranya terdapat anggota keluarga yang cacat (difabel). Persoalan dalam keluarga yang timbul akibat kemiskinan tidak hanya di kota besar, tetapi merambah ke kota-kota kecil dan pedesaan. Sebagai contoh, kasus anak bunuh diri, ibu bunuh anak karena panik dengan kemiskinan, kematian ibu dan bayi akibat gizi buruk, anak jalanan, maraknya pekerja anak di bawah umur, remaja yang terjerumus berbuat maksiat karena desakan kebutuhan hidup, kaum difabel yang tidak diacuhkan keluarga, dan sebagainya, adalah fakta yang memprihatinkan di negara kita sebagai negara Muslim terbesar di dunia dan memiliki dasar ideologi nasional Pancasila. Rumah tangga dan keluarga yang karam dihempas gelombang krisis yang berpangkal dari kekusutan ekonomi makin bertambah dalam masyarakat kita. Beban kemiskinan dan kepanikan menghadapi tuntutan kebutuhan hidup yang tidak seimbang dengan pendapatan kerapkali menjadi pencetus kekerasan dalam rumah tangga dan pengabaian tanggung jawab berkeluarga. Dalam sejumlah kasus keluarga bermasalah, suami istri yang terpisah karena tuntutan hidup berimbas pada anak yang tidak mendapat curahan kasih sayang yang sempurna dari orangtuanya. Secara teoritis dampak psikologi rumah tangga dengan ibu bapak yang terpisah berpengaruh terhadap kepribadian anak yang biasanya baru terlihat setelah anak mencapai usia dewasa. Mengenai fenomena perceraian, dalam tiga tahun terakhir angka perceraian di negara kita meningkat drastis dibanding sebelumnya, yaitu dari 20.000 kasus per tahun meningkat menjadi lebih dari 200.000 kasus dalam setahun dengan perbandingan 2,5 juta pernikahan per tahun. Perceraian dengan latar belakang persoalan ekonomi, seringkali bukan menyelesaikan masalah, tetapi malah memperparah masalah yang ada. Perceraian yang melanda rumah tangga dengan ekonomi menengah ke bawah berpotensi menambah jumlah orang miskin, terutama kaum perempuan, di samping musibah bagi anak secara fisik dan mental. Dr. Yusuf Qaradhawi dalam buku Kiat Islam Mengentaskan Kemiskinan (1995) mengungkapkan, ”Kemiskinan merupakan ancaman terhadap keluarga, baik dalam segi pembentukan, keberlangsungan, maupun keharmonisannya. Dari segi pembentukan keluarga, kemiskinan merupakan salah satu penghalang bagi para pemuda untuk melangsungkan pernikahan. Selain itu, tekanan kemiskinan kadang mengalahkan nilai-nilai moral. Kemiskinan dapat memisahkan seorang suami dengan istrinya. Kemiskinan bisa merenggangkan hubungan antar-anggota suatu keluarga, bahkan kadang memutuskan tali kasih sayang di antara mereka.” Dalam kaitan itu, mari kita renungkan bahwa Islam mengajarkan konsep keadilan sosial yang mewajibkan setiap manusia untuk saling menolong. Islam menetapkan pada kuadran pertama, seseorang wajib menolong dirinya sendiri, dan jika tidak sanggup, wajib dibantu oleh keluarga atau kerabat yang mampu. Pada kuadran terakhir orang miskin menjadi tanggungan masyarakat dan negara, yaitu dengan bantuan dana zakat maupun sistem jaminan sosial yang diselenggarakan oleh pemerintah. Islam meletakkan kewajiban pada setiap orang yang memiliki harta melebihi kebutuhan hidup layak supaya menunaikan zakat. Disamping itu, seorang muslim dianjurkan menginfaqkan sebagian hartanya untuk membantu karib kerabat, anak yatim dan orang miskin di sekitarnya. Lebih dari itu, seorang muslim semestinya merasa terpanggil untuk memikirkan kemaslahatan agama dan umat Islam pada umumnya. ”Bukanlah termasuk golongan kami (kaum Muslimin), siapa yang tidak peduli dengan keadaan yang menimpa umat Islam lainnya.”, demikian dikatakan oleh Nabi Muhammad SAW. Menurut riwayat, Khalifah Umar bin Khattab memberi zakat kepada orang miskin dengan kadar maksimal. Pernah datang seorang miskin kepada Umar r.a selaku kepala negara. Umar menyerahkan kepadanya zakat berupa tiga ekor unta. Unta merupakan harta produktif dan berharga karena memiliki nilai ekonomi tinggi di masa itu. Khalifah Umar mengatakan kepada pegawai Baitulmaal, ”Berikan zakat kepada orang yang berhak walaupun mereka telah menghabiskan seratus ekor unta.”

Mengenai besarnya zakat yang diberikan kepada mustahik fakir miskin, dua pendapat yang populer di kalangan ulama fiqih. Pertama, memberikan zakat dalam jumlah yang dapat menjamin terpenuhinya kebutuhan seumur hidup. Kedua, memberikan zakat yang dapat menjamin terpenuhinya kebutuhan hidup selama satu tahun. Dari dua pendapat di atas, jika dipadukan intinya zakat diberikan dalam jumlah yang pantas dan memungkinkan mustahik terangkat ke tingkat kehidupan yang layak.

Tidak dapat dipungkiri bahwa menyelamatkan rumah tangga dan keluarga miskin berarti memperkuat masyarakat dan negara. Prof. Dr. H.A. Mukti Ali (Menteri Agama RI 1971-1978) mengatakan; ”Bagaimana caranya membangun negara yang kuat? Bangunlah rumah tangga yang kuat. Bagaimana caranya membangun negara yang makmur? Bangunlah rumah tangga yang makmur. Bagaimana caranya membangun negara yang bahagia? Bangunlah rumah tangga yang bahagia.”

Oleh karena itu pola pendistribusian dan pendayagunaan zakat dan pengembangan “rule model” harus lebih menyentuh upaya penyelamatan rumah tangga dan keluarga miskin melalui bantuan rutin sampai mereka bisa bangkit dan mandiri, pemberdayaan usaha ibu rumah tangga yang menjadi tulang punggung keluarga karena ditinggal oleh suami, serta program perlindungan dan pemberdayaan bagi penyandang cacat.

Dalam kaitan dengan kegiatan BAZNAS, meski belum maksimal mengingat luasnya problem kemiskinan, meliputi pelayanan langsung lewat Konter Layanan Mustahik (KLM), pemberian modal usaha (Baitul Qiradh BAZNAS), serta beberapa kegiatan eventual yang digelar bersama lembaga terkait dan kerjasama dengan stasiun televisi. Program-program tersebut perlu ditingkatkan tahun depan dan program lembaga zakat tidak boleh keluar dari fokus. Tujuannya bukan cuma sekadar membantu mustahik, tapi sekaligus mengetuk kesadaran nurani masyarakat dan memupuk kesetiakawanan sosial untuk saling peduli dan berbagi.

Demikian tulisan singkat ini penulis dedikasikan sebagai refleksi dalam rangka memperingati tiga momentum peristiwa sosial, yaitu Hari Penyandang Cacat Internasional yang jatuh pada tanggal 2 Desember, Hari Kesetiakawanan Sosial Nasional (HKSN) tanggal 20 Desember, serta Hari Ibu tanggal 22 Desember. Wallahu a’lam bisshawab.

Sumber : pelitaonline.com

 

 فى عام 2010  أجرى إ.م.ز  بعض البحوث حول دور الزكاة في الحد من الفقر. والنتيجة هي أن  برامج تمكين المجتمعات المحلية التي أجريت و تطبق فى 8  مجموعات من المؤسسات الخيرية تبين أن الزكاة يمكن أن ترفع طبقة الفقراء نحو 10,79 في المئة. واستمرت اتجاهات الزكاة فى القدرة على الحد من الفقر التي يعاني منها كثير من الناس فى إندونيسيا الى الزيادة .أصدرإ.م.ز بيانا في شهر أغسطس 2011 الماضى يقول أن معدل دور الزكاة في الحد من الفقر، وارتفعت نسبته نحو 24 في المئة فأكثر.

يتطلب الإسلام على كل فرد الذى يعيش في الحياة الاجتماعية أن يسعى باستمرار لتحقيق حياة كريمة. فأوجب على كل فرد إعداد نفسه  لأفضل وجه ممكن حتى يكون على مستوى جيد من المعيشة. من أجل حماية نفسه ومجتمعاته المحيطة به من الورم الخبيث الا وهوالفقر. ووفقا لما قال الاستاذ الدكتوريوسف القرضاوى، يقدم الإسلام لا يقل عن ستة الظروف المثالية لوضع استراتيجيات الحد من الفقر. فيما بينها،

أولا: هي التي يتم فيها العمل. العمل هو السلاح الأول في الحرب ضد الفقر. العمل هو السبب الرئيسي لإنتاج الثروة / الممتلكات، وأصبح عنصرا رئيسيا في الجهود الرامية إلى تحقيق الازدهار لأنفسنا و لأرض الله . في ظل النظام الإسلامي وأنظمتها فى العمل، أنه لا عامل لم يتلق  الأجور بعد كدحه وعرقه.

ثانيا: أمعن الإسلام اهتمامه مفصلا بالغاية الى الفقراء الذين لا يستطيعون القيام بأنشطة العمل، مثل المسنين الأرامل، ومجموعات المسنين وغيرهم. فقد  أكد الإسلام أن أقرب الأقرباء لديهم المسؤولية الرئيسية في تحمل الأعباء الملقاة على تلك الأصناف. بل هدد الإسلام بشدة لهؤلاء الذين ينتهكون عمدا صلة الأرحام و الأخوة وترك أخوانهم يغرقون في محنة. من وفر سبل العيش للأقارب الفقراء فقد وضعت حجر الأساس في بناء التضامن الاجتماعي.

ثالثا هي الزكاة. وفقا للشريعة الإسلامية (مسطلحات الشرع)، والزكاة هي اسم لاتخاذ قرار معين من خاصية معينة، وفقا لخصائص معينة، ويوزع لبعض المجموعات (الماوردي فى كتاب الحاوى). وهذا يعني أن الزكاة أمر مؤكد وشئ منضبط، حول مضمونها وحسابها،فضلا عن مستحقيها. (( إِنَّمَا الصَّدَقَاتُ لِلْفُقَرَاءِ وَالْمَسَاكِينِ وَالْعَامِلِينَ عَلَيْهَا وَالْمُؤَلَّفَةِ قُلُوبُهُمْ وَفِي الرِّقَابِ وَالْغَارِمِينَ وَفِي سَبِيلِ اللَّهِ وَاِبْنِ السَّبِيلِ فَرِيضَةً مِنَ اللَّهِ وَاللَّهُ عَلِيمٌ حَكِيمٌ )) ]سورة التوبة: 60[.

رابعا: هي دخل الدولة من المصادر الأخرى. سواء كان تدار وحدها أو بالتعاون مع أطراف أخرى. لا ينبغي الموارد الاقتصادية للدولة أن تدار من قبل الفرد لكي يكون سائر المجتمع – خاصة الفقراء – قادرين على الاستفادة منها.

خامسا: هي الالتزامات الأخرى المتأصلة في حق شخص مسلم. من بينها ما يلي: حق المجاور. معاشرة الجيران بالمعروف هو دليل على كمال الإيمان.  ويليه  الأضحية ، والعقوبات على شهادة الزور، والكفارات، والفدية للمسنين، الهدي (التبرعات من الناس الذين يؤدون فريضة الحج أو العمرة)، والرسوم خلال موسم الحصاد ما ليس بزكاة، والأخيرهو الزكاة في الوقت الراهن لا كافية لتلبية احتياجات الفقراء / المساكين ثم هناك التزاما آخر أن يتحملها الفقراء. سادسا: هي التبرعات للخيرات. فالتبرعات  هى من الأعمال الأكثر اعتمادا على فضيلة الشخصية والكرم من الأغنياء ضد الفقراء. وهذه الأعمال غيرمؤثرة في محاولة العدالة على توزيع الثروة وحدة الفقر.  ولا سيما إذا كان قلوب الأغنياء متحجرات وإيمانهم ضعيف.

من بين الوسائل المذكورة فالزكاة هي إحدى الوسائل وأحسنها وأفضل الإمكانات لتخفيف المجتمع من حدة الفقر،فالزكاة أيضا تغطي نقاط الضعف في استراتيجية توزيع الثروة من الأغنياء إلى الفقراء وإحدى المحاولة في تخفيف حدة الفقر، وهذا إذا قارنها مع غيرها من الوسائل، من دون جعل  الطبقات بين كل مرفق.

إذا أنعمنا النظر فنجد أن الإسلام يهتم جدا بحال المعوزين الذين لايمتلكون الكفاءت على الإنتاج والسد على احتياجاتهم على مستوى المعيشة اليومية، مع أن هناك فئات من الناس من يعرف فعلا ومن يمتلك اموالا ولكنهم أبوا أن يخرجوا أي التبرعات. ففى هذه الحالة نعرف أن الله سبحانه وتعالى قد أثبت بوضوح الواجبات والحقوق بين الفئاتين المذكورتين (الأغنياء والفقراء) في عدالة توزيع الثروة، تعنى بوسيلة الزكاة. فالزكاة في الإسلام من حيث التعريف معنا ها الإلتزامات أو الديون المفروضة التى تحملها عاتق الأغنياء للتوزيع على المعوزين المستحقين. من هنا نعرف أن الزكاة هي الإلتزام الواضح لا لبس فيه، فقد قرر الله مصارفها و نصابها بوضوح. وكذالك نعرف أن الزكاة ليست فقط جمعية خيرية سواء بشكل فردي أو التبرعات وإنما هي حق وواجب. والأخير نعرف أن الزكاة هي نظام خلقها الله لعباده، في محاولة الضمان الاجتماعي.

كما أن اليل والنهار، كذالك أن الأرزاق الواسعة لبعض الناس هى من سنن الله لخلق التوازن في الحياة الاجتماعية. التوازن في توزيع الثروة يحقق الأمان والسلامة والحفاظ على ثروة الأغنياء من إمكانيات حسد أو غيرة الفقراء. ومن ناحية أخرى، فإن الضمان الاجتماعي من ثروات الأغنياء يزيل المخاوف على مشاكل الحياة من قبل الفقراء.

الضمان الاجتماعي الذى أنشأ من حقوق وإلتزامات الزكاة يمس  احتياجات المجتمع كلها في البلد المعينة، لأن في النهاية يمكن تقسيم الناس إلى مجموعتين، تعنى المزكى ومستحق الزكاة. فهذه الحالة تتطلب الإدارة النظامية، لكي تكون الإمكانية الموجودة تمت تنفيذها كألة توزيع الأرزاق من الله تعالى.

 Alكنيبيكككيبيشبيبمنتشيمنبشسمنمبني      يبيتنظيم أموال الزكاة في اندونيسيا له خصوصيته. يعنى أن حقائق الشريعة الإسلامية ليست شيئا معروفة لدى أصحاب السلطة. ظهور تنظيم الزكاة وقع بعد وضع عدد من فئات المجتمع تشارك في إدارة الزكاة. لذالك فإن دور الحكومة فى إدارة الزكاة تخلف العديد من الخطوات ، وفقا لبعض البحوث أن إمكانية أموال الزكاة في اندونيسيا وصل إلى أكثر من 200 تريليون روبية.

فى هذه المسألة رأى يوسوف القرضاوى، أن في حالة فوضى الدولة لإدارة الزكاة سوف تظهر بعض النقط التالية: أولا: أن حجم محتمل  للزكاة يصبح الخطاب فقط ، وهذا يسبب جمع الزكاة ضئيلا للغاية مقارنة مع إمكانيتها. وبالتالي يؤدي إلى انخفاض الطلب والمشاكل الاجتماعية التى لا يمكن حلها. قلة وجود جمع أموال الزكاة تظهر على النقظ التالية: منها، بما في ذلك عدم وجود الحافز الديني والوعي الإسلامى في غالبية شعبها، ومنها انعدام الثقة في المديرين. يعنى هناك الإلتصاق القوي على عدم الثقة على يد أصحاب السلطة الذين لا يقدرون على أداء الامانة في بلدنا اليوم. سلوك الجشع، والطمع، وعد م الإقناع عن ما يملكه بالفعل يشجع أصحاب السلطة أن يحلوا ما ليس عندهم.

وهناك سبب آخر لانخفاض جباية الزكاة وهو تحول سلوك مجتمعنا. براقة نمط الحياة، والمتعى، وعدم الرضاء على منافسته، والتبذير الذي يسبب ضياع حقوق الفقراء الموجودة عن أموال الأغنياء دون جدوى، و تقويض واستنزاف الإمكانيات (الزكاة) التي لا توفر فوائد للدين والحياة.

ثانيا: انطلاق مذهل لنمط التوزيع وعدم مطابقته بالموضوع. إن ضعف التكريس، عدم الكفاءة والمهنية والإيمان يؤدي إلى توزيع شاذة للزكاة, يحتمل أن يكون مستحق الزكاة قد لا يستحق حقه، و يحتمل أن يكون غير مستحق الزكاة قد يستحق ما ليس  بحقه. فالزكاة في هذه الحالة لا تكون قادرة على سد احتياجات الفقراء، إلا بكميات قليلة جدا.

ونتيجة ذلك ، أن من الممكن ظهور خيبة الأمل والاحتجاج ضد نظام الزكاة الذي يعتبر لا يستطع على تحسين حالة الفقر. ويخشى من هذا الموقف أنشأ التشكيك واللامبالاة تجاه النظام في النهاية وأحكام الشريعة بشكل عام.

بناء نظام حدة الفقر على نظام الزكاة هو بالتأكيد ليس سهل كما تحول كف اليد. وعلاوة على ذلك، أن إندونيسيا ليست أتباع نظام وشريعة الإسلام. لذلك لابد أن يكون هناك القدرة على التعزيز والتواصل والتعاون بين الحكومة ومجموعات المجتمع المعنية مع جهود التخفيف من حدة الفقر حكمة. وعلى الأقل ينبغي للدولة الاعتراف بأن إدارة الزكاة في اندونيسيا تقوم به أبعد ما يكون عن المثالية. بناء نظام إدارة الزكاة الذى ينطوي على الهياكل الاجتماعية الأقرب إلى المجتمع أنفسهم يجب أن يتعين القيام به وبتطويره، على الرغم من انها تحتاج إلى وقت  طويل. وفي الوقت نفسه، يجب أن لا يزال إمكانيات الزكاة المتزايدة في المجتمع ويجب استيعابها وجمعها. وينبغي أن يتم استيعابها بإشراك مؤسسات الزكاة الموجودة للمجتمع و يجب  اعتراف حالاتها حتى إلى أدنى مستوىوهذا لأجل دور مؤسسة الزكاة في تخفيف  حدة الفقر أصبحت من المسلم بها على نحو متزايد وموثوق بها من قبل الجمهور. والله أعلم. (DH)

In 2010, IMZ conducted a research on zakat contribution to the poverty eradication efforts. A survey on the community empowerment program carried out by 8 zakat management instutions showed that zakat successfully liberated 10.79% of the poor communities in Indonesia from poverty chain. The capacity of zakat in reducing poverty rate in several communities in Indonesia shows increasing trend. By August 2011, IMZ announced that the figure has risen to over 24%.

Every Moslem is entitled to the obligation to struggle for a proper life. Everyone must prepare themselves to achieve a good living standard, to protect them from the poverty problem. According to Prof. Dr. Yusuf Qaradhawy, Islam offers at least 6 strategies for poverty eradication. First, do some work. Working is the ultimate weapon in the fight against poverty. This is how people can make money or wealth, and it is the main factor in every Moslem’s fight for a proper life on Allah’s world. Under the Islamic system and rules, everybody will receive reward for what they do.

Second, Islam particularly pays attention to the people among the poor whose condition barred them from working, such as the old widowed women, the elder and other people in this group. Islam bestowed the responsibility to take care of these people to the hand of their closest relatives. Islam also firmly scolded and threatened those who purposedly leave their relatives in hard condition. By giving support to our poor relatives, we are putting the first stone in the grand building of social solidarity.

Third, is zakat. According to Islamic Laws or syara’, zakat refers to Ketiga adalah zakat. Menurut Hukum Islam (istilah syara’), zakat means a particular taking of a particular property, according to certain characteristics and to be given to certain groups (Al Mawardi in Al Hawiy). This means that zakat is a certain matter, in terms of content and calculation, and in term of who is entitled to receive the zakat. “Zakah expenditures are only for the poor and for the needy and for those employed to collect [zakah] and for bringing hearts together [for Islam] and for freeing captives [or slaves] and for those in debt and for the cause of Allah and for the [stranded] traveler – an obligation [imposed] by Allah . And Allah is Knowing and Wise.” (QS. At-Taubah: 60)

Fourth is the state income from other income sources, both administered by the state itself and those administered under a joint system. The economic sources of a state must not be administered by individual, to ensure that all levels of people, particularly the poor, benefit from it. The fifth strategy is through other responsibilities to which a Moslem is entitled to, including the obligation to be thoughtful to our neighbors, which is a proof of a perfect religious faith. Other responsibilities are to give sacrifice on the Idul Adha. There are also a number of rules in Islam, of which a Moslem must pay fines for violating these rules, such as the kaffarat, the ban for marital relationship during daytime in Ramadhan, fidyah paid by the elder, hady (alms giving from people who went for hajj or umroh pilgrim), alms giving during harvest time. In the events of zakat funds are not sufficient to meet the needs of the poor, Moslems are also entitled to the responsibility to provide proper living for the poor people.

The sixth strategy is related to religious alms giving, which strongly depends on individual values of religiosity and generosity, and on the awareness among the riches about the poor’s condition. However, this is not a binding responsibility and thus its impacts on the even distribution of wealth and poverty eradication is not significant. Moreover, there is always a possibility that the riches are lacking of social awareness and religious faith.

Among the above tools to alleviate poverty, zakat has the most potency, because its concept covers the weaknesses of other strategies in distributing wealth to the poor, without creating classes in each system.

Islam pays a particular consideration to a condition where there are people who are not in the capacity to earn their living, while there is another group that actually knows the existence of these poor people but nothing is done to change this condition. Allah SWT firmly declared the rights and responsibilities of the two groups (the riches and the poors) in distributing wealth to its beneficiaries, through a mechanism of zakat. In Islamic theory, zakat is an obligation or debt of the riches to be paid to the poors. Zakat is a certain and firm responsibility, with certain calculation and contents. Zakat is not individual or voluntarily alms. Zakat is about rights and responsibilities. Zakat is a system created by Allah for the Moslems as a social protection system.

As natural as the creation of day and night, Allah SWT gives generous wealth as sunatullah to some people to allow them creating social balance within the community. A balanced and even distribution of wealth guarantees secure and continuous wealth for the riches and protect them from the poor’s envious desire. On the other side, it creates social security that protects the poor from life problems.

A social security system generated from zakat rights and responsibilities will benefit all levels of people in a state. In the end, there will be only two groups of people: the zakat payers and the zakat beneficiaries. A systemic management approach, however, is important to maintain such condition, to ensure that zakat’s potency as a tool to distribute Allah’s rizqi can be realized.

In Indonesia, zakat management context is an execption. As a diversed nation, Islamic law is not popular in Indonesia. The concepts of zakat management concepts were placed by a number of community members that had concern on the issue. As the consequence, the government was left behind in managing zakat, particularly in optimizing zakat potentials which are estimated to exceed Rp 200 trillion.

Yusuf Qaradhawy had predicted that in a state where zakat management is carried out on a weak basis, several things will happen.

First, zakat potencies will remain a discourse, because zakat collection will not level its potencies. This will resulted in endless problems of poverty and other social problems. The low zakat performance might be caused by several reasons, such as the weak religious motivation and awareness among its people, and people’s low trust to zakat management officials. There is a strong stigma in Indonesia that the state servants were incapable in doing their tasks. Among their signature characteristics are greedy and never feel satisfied with what they have, which lead them to justify everything for their sake.

Another factor to the low zakat collection is the shift of lifestyle among our people. The tendency of being glamorous has made people compete for being the wealthiest among others and ignore the rights of the poor in their wealth. These people have wasted their zakat potencies for useless things.

Second; a less objective and complicated distribution pattern. Often we see that a weak basis of dedication, professionalism and religious faith has caused irregularities in zakat distribution. Zakat might be distributed to those who are not eligible, while the true beneficiaries of zakat will be left behind. Eventually, zakat funds will not be enough to fulfill the needs of the poor.

From the above conditions, we can see the possibility that disappointment and complaints might be addressed to the zakat system, for failing to reduce poverty. Such situation might lead to skepticism and apathy among the people on the Islamic rules and system in general.

Building a zakat-based poverty eradication system would not be as easy as flipping a hand, especially considering that Indonesia does not apply Islamic law as its constitution. It will take wisdom in creating a synergy between the government and the community groups that concern on the alleviation poverty efforts. The government must at least admit that its zakat management system is still far from being ideal. A zakat management system must be build by involving the closest structure to the community itself, while focusing on accommodating zakat potentials of the people. Community-based entities must be accommodated and involved down to the lowest level of zakat institution. This way, zakat will reach its potency in alleviating poverty to the maximum with the support of people’s trust. Wallahu ‘alam. (DH)

]]>