• Phone: 085215646958
  • training@imz.or.id
Stay Connected:

MENAKAR EFISIENSI, MENJAGA EMPATI: MENGAPA LEMBAGA SOSIAL MEMBUTUHKAN WORK LOAD ANALYSIS?

Fatchuri Rosidin (Direktur IMZ)

Bayangkan seorang koordinator program di sebuah lembaga filantropi. Di pagi hari, ia harus turun ke lapangan memastikan distribusi bantuan tepat sasaran. Siang harinya, ia harus menyusun laporan kaji dampak untuk donatur. Sore hari, ia diminta mengunggah konten kegiatan ke media sosial, dan malamnya masih harus membalas pesan-pesan koordinasi relawan.

Bagi banyak aktivis sosial, fenomena “sapu jagat”—satu orang mengerjakan semuanya—sering kali dianggap sebagai bentuk totalitas perjuangan. Tapi pernahkah kita bertanya: sampai kapan fisik dan pikiran mereka mampu bertahan? Apakah kita tidak sedang melakukan perbuatan dzalim?

Di sinilah peran Work Load Analysis (WLA) jadi krusial. WLA bukan sekadar hitung-hitungan angka di atas kertas Excel atau upaya untuk “memeras” tenaga staf, melainkan sebuah instrumen keadilan. Melalui WLA, kita berhenti menebak-nebak dan mulai mengukur secara objektif: apakah tim kita sedang berlari maraton dengan kecepatan sprint, ataukah ada potensi energi yang selama ini tidak teralokasi dengan optimal?

Ada fenomena lain yang sering terjadi di beberapa lembaga: kewalahan menerima permintaan penambahan SDM. Semua manajer mengeluh kekurangan orang. Dan kita tak tahu bagaimana menilai permintaan itu memang benar-benar perlu dipenuhi atau sebenarnya masih bisa dikerjakan dengan jumlah SDM yang ada.

Sering kali alasan penambahan staf didasarkan pada perasaan “sibuk”. WLA mengubah subjektivitas itu menjadi data Full-Time Equivalent (FTE). Jika hasil FTE menunjukkan angka 1.3, artinya pekerjaan tersebut memang membutuhkan 1,3 orang—alias staf kita sedang kelebihan beban kerja sebanyak 30%. Jika hasil FTE-nya 0.7, artinya kita boros SDM, karena tim kita punya 30% waktu menganggur.

WLA bukan sekedar gagah-gagahan atau memperumit pekerjaan dengan hitungan matematis. Ini cara kita menerjemahkan konsep keadilan dalam mengelola sumberdaya. Kita memastikan bahwa kita efisien dalam penggunaan SDM, tidak berlebih yang membuat pemborosan dana donatur. Di sisi lain, kita tidak memberikan beban berlebih kepada tim untuk menjaga kesehatan mental mereka dan mencegah burn-out , sehingga punya ‘tangki’ empati yang penuh untuk melayani para penerima manfaat.

FR-120526

Add Your Comments

Your email address will not be published. Required fields are marked *

First Name*
Subject*
Email*
Your Comments