• Phone: (021)-7418-607
  • info@imz.or.id
Stay Connected:

(Fatchuri) Mohon doa utk tim kemanusiaan Dompet Dhuafa yg saat ini berada di kamp pengungsian Rohingya di Bangladesh. Lebih dari 400.000 pengungsi saat ini membutuhkan bantuan logistik dan kesehatan. Catatan Perjalanan (Rohingya Bangladesh) Siang itu terik membakar di lokasi pengungsian Thangkhali Cox’s Bazar. Antrian membanjiri tenda kesehatan milik Indonesia Humanitarian Alliance Rabu (27/09). Pasien yang merupakan pengungsi dari Rohingiya itu memasang wajah kepayahan. Beberapa diantaranya terbatuk-batuk, memegang perut seraya menahan nyeri. Tampak diantrian seorang ibu menggendong anaknya. Bibi Ara (40), menggendong anak bungsunya, Asna Biba (2 bulan). Ibu tersebut terlihat kelimpungan dalam menenangkan si bayi yang terus meraung-raung. Saya dan dr Muh Iqbal Mubarak dari Komite Penanggulangan Bencana IDI dan Dompet Dhuafa menghampiri ibu tersebut. Dilihatnya Asna Biba yang terisak. Kepala bayi itu terlihat membesar, perutnya membuncit, namun lingkar lengannya mengecil. Dari pelukan ibunya, dia berpindah ke tanganku. Saya mengajaknya berbicara dan bercanda. Sekalipun dalam hati terdalam saya teriris, saya membayangkan jika anak itu adalah anakku. Mendekam dalam derita malnutrisi. Selang beberapa lama, bayi itu berangsur tenang. Diam dalam pelukanku. Ibunya bercerita, bahwa mereka tiba kamp pengugsian ini 15 hari yang lalu. Dia dan bayinya ini menempuh perjalanan 3 hari dari negara bagian Rakhine menuju Cox’s Bazar. Bersama rombongan pengungsi, mereka melewati hutan, jalan berbatu, juga trauma akan desingan peluru di kampungnya. Dengan keterbatasan pangan mereka berjalan. Dalam keterbatasan tersebut, kadangkala si Ibu memberikan nasi atau roti yang ditumbuk terlebih dahulu lalu dilarutkan dengan air tadahan sungai di perjalanan mereka. Sebagiannya lagi terpaksa berlapar. Wajar ketika diare dan kekurangan gizi mendera mereka. Mereka di dalam penanganan tim medis Dompet Dhuafa – IDI beserta Relawan Kemanusiaan yang tergabung di Indonesia Humanitarian Alliance melakukan Aksi Layananan Sehat darurat yang teridiri atas 4 dokter dan 4 perawat. Asna Biba dan Bibi Ara tidak sendiri. Banyak pengungsi terkena penyakit tersebut. Hingga hari ini sejumlah 370 ribu pengungsi tersebut yang juga diantaranya bayi dan anak-anak itu mengalami penyakit infeksi saluran penapasan dan penyakit kulit beberapa lainnya lagi diare disertai penyakit mata. Mayoritas pasien adalah anak-anak balita dengan status gizi kurang. Namun tim medis tersebut masih membutuhkan obat-obatan dan bahan makanan untuk para pengungsi. Karena Asna Biba dan Bibi Ara adalah manusia. Karena Pengungsi itu adalah saudara kita, sesama manusia. #SaveRohingya #PrayForRohingya #Humanity #westandforrohingya #Humanesia #Membentangkebaikan Rosita Rivai – GM Kesehatan dan Pendidkan Dompet Dhuafa.

(Fatchuri)
Mohon doa utk tim kemanusiaan Dompet Dhuafa yg saat ini berada di kamp pengungsian Rohingya di Bangladesh. Lebih dari 400.000 pengungsi saat ini membutuhkan bantuan logistik dan kesehatan.

Catatan Perjalanan (Rohingya Bangladesh)
Siang itu terik membakar di lokasi pengungsian Thangkhali Cox’s Bazar. Antrian membanjiri tenda kesehatan milik Indonesia Humanitarian Alliance Rabu (27/09). Pasien yang merupakan pengungsi dari Rohingiya itu memasang wajah kepayahan.

Beberapa diantaranya terbatuk-batuk, memegang perut seraya menahan nyeri. Tampak diantrian seorang ibu menggendong anaknya. Bibi Ara (40), menggendong anak bungsunya, Asna Biba (2 bulan). Ibu tersebut terlihat kelimpungan dalam menenangkan si bayi yang terus meraung-raung.

Saya dan dr Muh Iqbal Mubarak dari Komite Penanggulangan Bencana IDI dan Dompet Dhuafa menghampiri ibu tersebut. Dilihatnya Asna Biba yang terisak. Kepala bayi itu terlihat membesar, perutnya membuncit, namun lingkar lengannya mengecil. Dari pelukan ibunya, dia berpindah ke tanganku. Saya mengajaknya berbicara dan bercanda. Sekalipun dalam hati terdalam saya teriris, saya membayangkan jika anak itu adalah anakku. Mendekam dalam derita malnutrisi. Selang beberapa lama, bayi itu berangsur tenang. Diam dalam pelukanku. Ibunya bercerita, bahwa mereka tiba kamp pengugsian ini 15 hari yang lalu. Dia dan bayinya ini menempuh perjalanan 3 hari dari negara bagian Rakhine menuju Cox’s Bazar. Bersama rombongan pengungsi, mereka melewati hutan, jalan berbatu, juga trauma akan desingan peluru di kampungnya.

Dengan keterbatasan pangan mereka berjalan. Dalam keterbatasan tersebut, kadangkala si Ibu memberikan nasi atau roti yang ditumbuk terlebih dahulu lalu dilarutkan dengan air tadahan sungai di perjalanan mereka. Sebagiannya lagi terpaksa berlapar. Wajar ketika diare dan kekurangan gizi mendera mereka. Mereka di dalam penanganan tim medis Dompet Dhuafa – IDI beserta Relawan Kemanusiaan yang tergabung di Indonesia Humanitarian Alliance melakukan Aksi Layananan Sehat darurat yang teridiri atas 4 dokter dan 4 perawat. Asna Biba dan Bibi Ara tidak sendiri. Banyak pengungsi terkena penyakit tersebut. Hingga hari ini sejumlah 370 ribu pengungsi tersebut yang juga diantaranya bayi dan anak-anak itu mengalami penyakit infeksi saluran penapasan dan penyakit kulit beberapa lainnya lagi diare disertai penyakit mata.

Mayoritas pasien adalah anak-anak balita dengan status gizi kurang. Namun tim medis tersebut masih membutuhkan obat-obatan dan bahan makanan untuk para pengungsi. Karena Asna Biba dan Bibi Ara adalah manusia. Karena Pengungsi itu adalah saudara kita, sesama manusia.

#SaveRohingya #PrayForRohingya #Humanity #westandforrohingya #Humanesia #Membentangkebaikan

Rosita Rivai – GM Kesehatan dan Pendidkan Dompet Dhuafa.

(Fatchuri)
Mohon doa utk tim kemanusiaan Dompet Dhuafa yg saat ini berada di kamp pengungsian Rohingya di Bangladesh. Lebih dari 400.000 pengungsi saat ini membutuhkan bantuan logistik dan kesehatan.

Catatan Perjalanan (Rohingya Bangladesh)
Siang itu terik membakar di lokasi pengungsian Thangkhali Cox’s Bazar. Antrian membanjiri tenda kesehatan milik Indonesia Humanitarian Alliance Rabu (27/09). Pasien yang merupakan pengungsi dari Rohingiya itu memasang wajah kepayahan.

Beberapa diantaranya terbatuk-batuk, memegang perut seraya menahan nyeri. Tampak diantrian seorang ibu menggendong anaknya. Bibi Ara (40), menggendong anak bungsunya, Asna Biba (2 bulan). Ibu tersebut terlihat kelimpungan dalam menenangkan si bayi yang terus meraung-raung.

Saya dan dr Muh Iqbal Mubarak dari Komite Penanggulangan Bencana IDI dan Dompet Dhuafa menghampiri ibu tersebut. Dilihatnya Asna Biba yang terisak. Kepala bayi itu terlihat membesar, perutnya membuncit, namun lingkar lengannya mengecil. Dari pelukan ibunya, dia berpindah ke tanganku. Saya mengajaknya berbicara dan bercanda. Sekalipun dalam hati terdalam saya teriris, saya membayangkan jika anak itu adalah anakku. Mendekam dalam derita malnutrisi. Selang beberapa lama, bayi itu berangsur tenang. Diam dalam pelukanku. Ibunya bercerita, bahwa mereka tiba kamp pengugsian ini 15 hari yang lalu. Dia dan bayinya ini menempuh perjalanan 3 hari dari negara bagian Rakhine menuju Cox’s Bazar. Bersama rombongan pengungsi, mereka melewati hutan, jalan berbatu, juga trauma akan desingan peluru di kampungnya.

Dengan keterbatasan pangan mereka berjalan. Dalam keterbatasan tersebut, kadangkala si Ibu memberikan nasi atau roti yang ditumbuk terlebih dahulu lalu dilarutkan dengan air tadahan sungai di perjalanan mereka. Sebagiannya lagi terpaksa berlapar. Wajar ketika diare dan kekurangan gizi mendera mereka. Mereka di dalam penanganan tim medis Dompet Dhuafa – IDI beserta Relawan Kemanusiaan yang tergabung di Indonesia Humanitarian Alliance melakukan Aksi Layananan Sehat darurat yang teridiri atas 4 dokter dan 4 perawat. Asna Biba dan Bibi Ara tidak sendiri. Banyak pengungsi terkena penyakit tersebut. Hingga hari ini sejumlah 370 ribu pengungsi tersebut yang juga diantaranya bayi dan anak-anak itu mengalami penyakit infeksi saluran penapasan dan penyakit kulit beberapa lainnya lagi diare disertai penyakit mata.

Mayoritas pasien adalah anak-anak balita dengan status gizi kurang. Namun tim medis tersebut masih membutuhkan obat-obatan dan bahan makanan untuk para pengungsi. Karena Asna Biba dan Bibi Ara adalah manusia. Karena Pengungsi itu adalah saudara kita, sesama manusia.

#SaveRohingya #PrayForRohingya #Humanity #westandforrohingya #Humanesia #Membentangkebaikan

Rosita Rivai – GM Kesehatan dan Pendidkan Dompet Dhuafa.

]]>

Add Your Comments

Your email address will not be published. Required fields are marked *

First Name*
Subject*
Email*
Your Comments