• Phone: (021)-7418-607
  • info@imz.or.id
Stay Connected:

Ciputat, 1 April 2011

Ahmad Juwaini

Bila kita memperhatikan perilaku para pengelola dana zakat atau lembaga sosial, khususnya dalam kaitan berhubungan dengan masyarakat, maka kita bisa mengelompokkan gayanya pada tiga jenis perilaku. Ketiga gaya tersebut dapat kita lihat juga sebagai tiga klasifikasi. Ketiga gaya ini adalah kecenderungan perilaku yang sering ditampilkan oleh para pengelola dana zakat atau lembaga sosial. Adapun ketiga gaya tersebut dapat kita namai sebagai gaya pengamen, pemain band dan selebriti. Gaya pengamen ditunjukkan oleh perilaku para pengelola lembaga kemanusiaan yang punya kebiasaan sering mengharu biru masyarakat dalam rangka mengundang simpati. Umumnya yang mereka lakukan adalah menceritakan penderitaan orang miskin secara vulgar. Sangat sering mereka mengeksploitasi kesulitan para dhuafa. Kadang yang dilakukannya adalah membuat atau menampilkan puisi-puisi ratapan atau lagu-lagu kesedihan. Tidak sedikit yang sampai menampilkan anak-anak dari keluarga miskin untuk menceritakan derita hidupnya dihadapan orang banyak. Tujuannya agar masyarakat yang mendengar ikut larut dalam kesedihan dan akhirnya mau mengeluarkan uang sumbangan. Gaya berikutnya yang kadang ditampilkan adalah gaya pemain band. Gaya ini merujuk kepada perilaku para pengelola zakat atau lembaga sosial yang berusaha menyajikan kemasan program yang menarik, berkualitas dan harmoni pengelolaan yang baik. Kelompok pemain band ini berusaha menampilkan kinerja pengelolaan zakat dan aktivitas sosial sebagai suatu substansi untuk mencapai tujuan dalam menolong orang miskin. Untuk mengundang uang dan simpati, bekal utama pemain band bukanlah puisi dan lagu-lagu kesedihan, akan tetapi nilai manfaat dan dampak program terhadap perbaikan nasib orang miskin. Dalam tahap yang lebih tinggi, tentulah kualitas pemain band ini dapat kita sebut sebagai pemain orkestra, karena kepiawaiannya dalam meramu substansi nilai program secara rancak. Gaya ketiga yang sering ditampilkan oleh pengelola dana zakat atau lembaga kemanusiaan adalah gaya selebriti. Gaya ini merujuk kepada perilaku para pengelola zakat dan lembaga sosial yang lebih mementingkan popularitas dalam melaksanakan kegiatannya. Kelompok ini menjadikan publisitas dan popularitas sebagai tujuan dari berbagai aktivitas yang dilakukannya. Gaya ini didukung oleh berbagai kegiatan yang lebih banyak melibatkan para wartawan dan promosi di berbagai media. Tidak penting apakah kegiatan tersebut memberi manfaat kepada orang miskin atau mendatangkan donasi, yang penting nama lembaga dan personil semakin dikenal luas oleh masyarakat. Tentu, sah-sah saja apabila pengelola zakat atau lembaga sosial menampilkan perilaku seperti tersebut di atas. Semua perilaku itu adalah bagian dari upaya setiap pengelola zakat dan lembaga sosial untuk mencapai tujuannya masing-masing. Selain karena faktor tujuan, gaya perilaku itu juga muncul disebabkan karena pengetahuan, pengalaman dan keterampilan yang dimiliki personil yang terlibat dalam mengelola zakat dan lembaga sosial. Semakin berkualitas pengelola zakat dan lembaga sosial, akan semakin berkualitas gaya perilaku yang ditampilkannya. Sebagian pengelola zakat dan lembaga sosial mungkin juga telah menyadari bahwa aspek substansi manfaat program, kemampuan mendatangkan simpati dan donasi serta dampak popularitas adalah ketiga hal yang tidak dapat dipisahkan. Mereka menjadikan semua aspek itu sebagai elemen penentu digerakkannya organisasi atau dijalankannya sebuah program. Aspek-aspek tersebut telah menjadi unsur penentu keberhasilan kegiatan dan bergulirnya roda organisasi. Namun apapun perilaku lembaga zakat atau lembaga sosial, masyarakat akan terus mengapresiasi gaya perilaku yang ditampilkan. Apesiasi masyarakat bisa muncul dalam bentuk apresiasi positif atau negatif. Dampaknya lembaga zakat atau lembaga sosial akan dicintai atau dijauhi masyarakat. Kini terpulang kepada lembaga zakat atau lembaga sosial, gaya perilaku seperti apa yang mau ditampilkan ?

Sumber : koranmuslim.com

]]>