• Phone: (021)-7418-607
  • info@imz.or.id
Stay Connected:

Oleh : KH Didin Hafidhuddin

Secara harfiah atau etimologis, zakat berarti bersih, suci, berkah, dan berkembang. Artinya, orang yang suka berzakat dipastikan hati dan pikirannya akan bersih, dan hartanya akan berkembang dengan penuh keberkahan. Hal ini sejalan dengan firman Allah dalam QS at-Taubah [9]: 103: “Ambillah zakat dari sebagian harta mereka. Dengan zakat itu kamu membersihkan dan mensucikan mereka, dan mendoalah untuk mereka. Sesungguhnya doa kamu itu (menjadi) ketenteraman jiwa bagi mereka. Dan Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui”. Sejalan dengan makna tersebut, implikasi spiritual dan rohani dari kesediaan berzakat dan berinfak sangat signifikan pengaruh positifnya terhadap perilaku orang yang berzakat (muzaki). Pertama, muzaki dipastikan akan memiliki etos kerja yang tinggi, aktif dan produktif. Selalu bekerja, berusaha, dan berikhtiar untuk mendapatkan penghasilan dalam rangka memenuhi kebutuhan diri dan keluarganya, dan memberi kepada orang yang membutuhkan (perhatikan QS al-Mukminun [23]: 1-4). Kedua, dalam mendapatkan penghasilan tersebut, muzaki akan selalu memperhatikan etika dan akhlak dalam bekerja. Ia tidak mau menghalalkan segala macam cara untuk mendapatkannya. Korupsi, menipu, mengambil hak orang lain, apalagi mengambil hak rakyat, tidak akan pernah ada dalam kamus kehidupan muzaki. Pada sisi ini, upaya membangun kesadaran masyarakat untuk berzakat hakikatnya adalah usaha memberantas perilaku korupsi sampai ke akar-akarnya karena melalui pendekatan akidah syariah, di samping tentu saja melalui norma dan hukum. Ketiga, muzaki akan memiliki jiwa sosial dan semangat empati yang sangat tinggi-memandang dan merasakan penderitaan orang lain sebagai penderitaan dirinya. Rasa kasih sayang akan selalu terjaga dan terpelihara dengan baik. Kesediaan untuk mengorbankan apa yang ada pada dirinya untuk kepentingan bersama yang lebih besar akan masuk ke dalam struktur rohani dan kepribadiannya. Inilah yang digambarkan sebagai semangat taraahum (saling menyayangi), sebagaimana diriwayatkan dalam sebuah hadis riwayat Imam Bukhari. Rasulullah SAW bersabda: “Kau lihat orang-orang Mukmin dalam membangun kasih sayang dan kecintaan di antara mereka adalah seperti satu tubuh. Jika salah satu anggota tubuhnya sakit, anggota tubuh yang lainnya akan merasakan sakitnya pula, baik dalam panas maupun demamnya”. Keempat, jika zakat-zakat para muzaki tersebut dikelola dan ditata melalui kelembagaan amil zakat yang amanah, terpercaya, dan profesional, maka akan melahirkan kekuatan yang sangat dahsyat dalam membangun kesejahteraan bersama. Sebuah bangunan kesejahteraan yang ditata atas dasar keimanan dan kepatuhan pada ketentuan syariah Islam, yang tentu saja akan relatif lebih lama dan langgeng. Karena itu, mari kita gali bersama kekuatan umat yang sangat indah dan luar biasa ini. Wallahu a’lam.

Sumber : Republika Online

]]>