• Phone: (021)-7418-607
  • info@imz.or.id
Stay Connected:

Ciputat, 6 Mei 2011

Oleh : Ari Maulana (IMZ)

Saat mendapat pertanyaan, “Setelah SMP mau lanjut ke mana?” mata Yuli sejenak menerawang, untuk kemudian memberi jawaban yakin, “Ke SMK Mas. Biar cepat kerja bantuin Emak.” Tidak ada cita-cita besar dalam jawabannya, hanya sebuah motivasi yang entah apakah berasal dari dirinya sendiri, membantu orangtua. Yuli hanyalah salah satu potret dari 13 juta anak Indonesia usia tujuh hingga lima belas tahun yang terancam putus sekolah, berdasar data BKKBN tahun 2010. Mimpi Yuli untuk mengenyam pendidikan SMK adalah mimpi bersyarat, bila bapaknya yang seorang pedagang ketoprak dan ibunya yang pembantu rumah tangga masih sanggup membiayainya. Bila tidak, maka harapan Yuli untuk bisa kerja kantoran setelah lulus SMK, harus dikubur dalam-dalam. Tanpa keahlian spesial atau koneksi, kantor mana yang mau menerima seorang lulusan SMP sebagai karyawan? Selain Yuli masih banyak anak-anak yang bahkan tidak berani bersekolah. Seorang relawan di rumah singgah bagi anak jalanan di Depok mengisahkan, bagaimana sulitnya memotivasi anak-anak binaan mereka untuk bersekolah. Bantuan donatur sebenarnya lebih dari cukup untuk membiayai sekolah secara gratis, tapi tuntutan orangtua kepada anak-anak tersebut untuk mencari nafkah di usia dini, membuat mereka lebih memilih berada di jalan daripada sekolah. Pemerintah bukannya tidak mafhum dengan kondisi tersebut. Kemendiknas pada tahun 2010 telah mengeluarkan data cukup rinci. Di tingkat SD, dari total 31,05 juta siswa sekitar 1,7% putus sekolah dan 18,4% lainnya tidak melanjutkan ke SMP. Untuk tingkat pendidikan SMP, dari jumlah 12,69 juta siswa, 1,9% putus sekolah, sementara 30,1% di antaranya tidak dapat melanjutkan ke SMA. Sedangkan pada tingkat SMA, persentasenya lebih tinggi lagi. Jumlah siswa putus sekolah mencapai 4,6% dari total 9,11 juta siswa, sementara yang tidak melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi sebanyak 59,8%. Berbagai program bantuan pendidikan pun digelontorkan pemerintah, melalui skema beasiswa maupun BOS. Tapi solusi parsial yang ditawarkan belum menyentuh permasalahan utama mayoritas anak-anak putus sekolah, yaitu kesulitan ekonomi keluarga. Semurah apapun biaya pendidikan, bahkan gratis sekalipun, tetap akan membuat anak-anak miskin enggan bersekolah, apabila kedua orangtuanya masih kesulitan mencukupi kebutuhan sehari-hari. Tuntutan membantu ekonomi keluarga dengan mengamen, berjualan atau menjadi tukang semir sepatu, membuat anak-anak usia sekolah dapat ditemukan beredar di tempat-tempat umum, pada jam sekolah. Sebagian masyarakat yang peduli kemudian melahirkan ragam pendidikan alternatif bagi anak-anak keluarga miskin, dua di antaranya yang cukup fenomenal adalah Sekolah Master (Masjid Terminal) di Margonda, Depok dan SMART Ekselensia Indonesia di Parung, Bogor. Di Sekolah Master, kurikulum yang tidak kaku membuat siswa-siswanya yang mayoritas adalah pengamen dan pemulung, masih dapat mencari nafkah sekalipun mereka harus sekolah. Pendidikan alternatif yang diinisiasi oleh Nurrohim pada tahun 2000 tersebut bahkan membuka kelas bagi mereka yang bekerja siang hari dengan jadwal kerja yang ketat. Bagi para pembantu rumah tangga, tukang sapu, pelayan toko, buruh, atau pengasong, disediakan kelas malam dengan jam belajar mulai 20.00 hingga 22.00. Hal tersebut membuat orangtua siswa dengan kemampuan ekonomi yang pas-pasan, tidak akan menganggap sekolah sebagai ‘ancaman’ terhadap stabilitas ekonomi keluarga. Kedekatan Nurrohim dengan para orangtua siswa (yang semula enggan menyekolahkan anaknya di Sekolah Master), membuat rasa kepemilikan mereka terhadap sekolah menjadi kuat. Perjuangan itu membuat Sekolah Master kini memiliki sekitar 2.000 siswa, yang berasal dari masyarakat tidak mampu di daerah Depok, serta anak-anak jalanan dari Depok, Jakarta, Tangerang, Bekasi, maupun Bogor. Berbeda dengan Sekolah Master, SMART Ekselensia Indonesia yang didirikan oleh Dompet Dhuafa dan diresmikan pada tahun 2004, menerapkan konsep sekolah berasrama terhadap anak didiknya yang semua laki-laki. Dengan diasramakan, para siswa SMART Ekselensia Indonesia yang merupakan hasil seleksi nasional diharapkan dapat fokus belajar tanpa harus dipusingkan dengan masalah keuangan keluarganya. Dengan diasramakan pula, mentalitas inferior yang dimiliki siswa karena status sosialnya yang berasal dari keluarga miskin, dapat diminimalisasi. Setiap Idul Fitri, siswa SMART Ekselensia Indonesia diberi kesempatan untuk tinggal bersama orangtua asuh (donatur) yang merupakan keluarga berada. Semua bertujuan agar muncul kepercayaan diri yang tinggi dalam jiwa para siswa. Metode yang diterapkan Sekolah Master maupun SMART Ekselensia Indonesia telah menunjukkan, bahwa permasalahan pendidikan masyarakat miskin bukan hanya terletak pada ketiadaan biaya pendidikan, namun lebih karena kondisi ekonomi keluarga miskin menuntut setiap anggotanya untuk bahu-membahu mencari nafkah, termasuk anak-anak. Hal tersebut yang harus menjadi perhatian serius pemerintah, bila ingin meningkatkan kualitas pendidikan di negeri ini. Pemerintah harus dapat memberi solusi integral terhadap masalah kemiskinan terlebih dahulu. Karena bila masih miskin, orangtua akan lebih memilih anaknya untuk mencari nafkah ketimbang bersekolah, sekalipun sekolah itu bebas biaya.

(Tulisan ini pernah dimuat : kompasiana.com)

]]>