• Phone: (021)-7418-607
  • info@imz.or.id
Stay Connected:

Jakarta, 11 Maret 2011

Melongok ke daerah-daerah pinggiran kota, mata kita akan terhenyak dan miris dengan kenyataan bahwa bangsa ini masih di penuhi berbagai macam pernak-pernik sampah dan perumahan kumuh yang tak menyedapkan mata. Hanya beberapa jengkal dari perumahan kumuh terdapat genangan air mati yang tak lagi mengalir dan berwarna kehitaman dengan aroma menyengat tak mengenakan.

Atau kita lihat lagi di daerah lain yang tak kalah mengenaskan, perumahan kumuh warga pinggiran kota yang tak hidup layak dengan rumah terbuat kardus seadanya, tumpukan sampah menjadi taman indah sekaligus tempat mengais rejeki masyarakat kelas bawah. Tak jauh dari perumahan mewah untuk masyarakat pinggiran ini terdapat rel kereta api yang memanjang. Onggakan baja relkereta api menjadi bangku empuk saat warga kumuh ini melepas penat setelah seharian bergulat dalam kubangan limbah sampah, atau bahkan menjadi tempat bermain anak-anak. Saat gerbong kereta api melintas, mereka dengan cepat dan sigap menghindar.

Seperti itulah pemandangan di berbagai sudut pinggiran kota-kota besar di Ibu Kota, Jakarta. Dari data Pemerintah Daerah DKI Jakarta, sedikitnya terdapat 416 spot pemukiman kumuh yang tersebar di lima wilayah Jakarta Barat, Timur, Pusat, dan Selatan. Ironis, pemukiman kumuh ternyata terdapat di daerah-daerah yang menjadi pusat pemerintah, perdagangan, bisnis, dan taman kota.

Ironisnya lagi mereka adalah masyarakat pendatang dari luar Jakarta, yang semula merantau dari daerah masing-masing ke Ibu Kota untuk mem-perbaiki kondisi ekonomi mereka, malah terdampar menjadi warga yang hanya dipandang sebelah mata bagi sebagian orang.

Kebanyakan mereka berprofesi sebagai pemulung sampah, atau pemburu barang-barang bekas untuk dikilo-kan kepada para kolektor dengan harga yang sangat murah. Karena untuk makan pun susah, anak-anak tak dapat mengenyam pendidikan, dan akibatnya mereka turun ke jalan membantu mencari uang dengan bermodalkan satu, dua lagu dengan satu kantong kresek bungkusan permen lusuh, ngamen. Atau sebagai peminta-peminta dengan mengharap welasasih dari pengguna jalan umum.

Mereka memang tidak memiliki ijasah pen-, didikan tinggi untuk dimanfaatkan mencari rejeki, tidak juga memiliki keterampilan untuk ditukarkandengan lembaran rupiah. Tapi mereka juga butuh sebungkus nasi untuk makan hari ini, atau hanya sekedar sesuap nasi untuk mengganjal perut.

Tak pelak, kepedihan pun kadang harus mereka telan pahit-pahit dengan aksi gusur dan bongkar rumah, tempat berteduh mereka yang hanya seluas gubuk rapuh. Tapi sedikit yang memikirkan bagaimana memberi makan mereka dengan tangan-tangan terampil.

Kemiskinan sebenarnya efek negatif dari pengangguran. Sedikitnya lapangan pekerjaan menjadi pemicu seseoarang tidak dapat bekerja dengan layak dan didukung oleh ketidakmampuan, keterampilan, dan keahlian yang tidak dimiliki. Sehingga tidak bisa membuat lapangan pekerjaan sendiri, atau sulit mendapatkan peluang kerja.

Sumber : bataviase.co.id

]]>