• Phone: (021)-7418-607
  • info@imz.or.id
Stay Connected:

Ciputat, 3 Agustus 2011

Nana Mintarti

Zakat di Indonesia mengalami kebangkitan di tangan masyarakat sipil pada tahun 1990-an. Era ini kemudian dikenal menjadi era pengelolaan zakat secara profesional-modern berbasis prinsip-prinsip manajemen dan tata kelola organisasi yang baik. Sejak era inilah kemudian potensi zakat di Indonesia mulai tergali dengan dampak yang semakin signifikan dan meluas. Titik balik terpenting dunia zakat Indonesia terjadi pada tahun 1999. Sejak tahun 1999, zakat secara resmi masuk ke dalam ranah hukum positif di Indonesia dengan keluarnya UU No 38/1999 tentang Pengelolaan Zakat.

Pasca pemberlakukan UU Nomor 38 Tahun 1999, lembaga pengelola zakat tumbuh bak cendawan di musim hujan, baik di tingkat pusat maupun daerah. Hingga kini setidaknya terdapat Badan Amil Zakat Nasional (BAZNAS) dan 18 Lembaga Amil Zakat (LAZ) tingkat nasional, 33 Badan Amil Zakat (BAZ) tingkat provinsi, dan 429 BAZ tingkat kabupaten/kota. Belum lagi bila kita perhitungkan LAZ tingkat daerah, 4.771 BAZ tingkat kecamatan, Unit Pengumpul Zakat (UPZ) hingga amil-amil tradisional-individual berbasis masjid dan pesantren. Di satu sisi, kecenderungan ini positif karena dunia zakat Indonesia kemudian menggeliat menjadi sangat dinamis. Namun di sisi lain, kecenderungan ini berpotensi menimbulkan masalah, terutama terkait tata kelola zakat dan kepercayaan masyarakat.

Pesatnya pertumbuhan lembaga pengelola zakat ini, masih belum diiringi dengan upaya penguatan kapasitas keorganisasian, sehingga disparitas kapasitas masih cukup tinggi. Publik secara umum masih melihat kinerja lembaga amil zakat belum optimal. Kebanyakan lembaga pengelola zakat ini belum efektif dalam menghimpun dan menyalurkan zakat. Kultur sebagian besar organisasi pengelola zakat belum berorientasi pada penguatan institusi dan sistem. Padahal, hal ini mutlak diperlukan jika organisasi pengelola zakat ingin mengambil peran signifikan dalam penanganan masalah kemiskinan.

Membangun Keunggulan dan Kompetensi Organisasi Zakat

Organisasi/ lembaga pengelola zakat (OPZ) adalah lembaga publik yang dalam kiprahnya mengelola dana publik. Sudah menjadi kewajiban bagi lembaga publik untuk mempertanggungjawabkan dana-dana yang dikelolanya kepada publik secara transparan. Maka setiap organisasi/ lembaga pengelola zakat dituntut dapat menjadi trustable institution. Keberhasilan kinerja pengelolaan zakat tidak hanya dilihat dari banyaknya dana zakat yang terkumpul, tetapi juga pada dampak dari pendistribusian dan pendayagunaan zakat tersebut yaitu dapat mewujudkan kesejahteraan dan keadilan sosial dalam masyarakat. Muzaki mana yang tidak bahagia, melihat dana zakat yang disalurkannya melalui lembaga amil, bersama muzaki lainnya, membuahkan sekolah gratis, rumah sehat cuma-cuma, sertan membangun banyak usahawan mikro-kecil dan menengah, bahkan bisa menyantuni dhuafa di negara lain.

Untuk itu, OPZ perlu membangun kapasitas lembaganya jika ingin memaksimalkan dampak sosial dalam pendayagunaan zakat, sebagaimana menjadi tujuan utama didirikannya sebuah lembaga amil. Tapi pada kenyataannya banyak organisasi yang mengabaikan pembangunan kapasitas, terutama dalam hal mengembangkan dan menyebarkan program pendayagunaan dan pemberdayaan zakat.

Membangun kapasitas maknanya lebih luas dari sekadar pengembangan organisasional atau kelembagaan, karena meliputi keseluruhan sistem, lingkungan atau konteks dimana individu, organisasi dan masyarakat beroperasi dan saling berinteraksi. Kapasitas didefinisikan sebagai kemampuan individu dan organisasi dalam menjalankan fungsinya secara efektif, efisien, dan berkelanjutan. Kapasitas merupakan kekuatan (power) dari suatu hal (bisa sebuah sistem, sebuah organisasi, maupun seseorang) untuk bekerja atau berproduksi. Selain itu, kapasitas bisa diartikan sebagai kemampuan untuk memecahkan masalah, untuk mencapai atau melanjutkan misi, serta untuk mencapai keseluruhan sasaran yang dituju.

Secara sederhana dapat dikatakan bahwa OPZ yang sehat adalah OPZ yang dapat menjalankan fungsi-fungsinya dengan baik. Dengan kata lain, OPZ yang sehat adalah OPZ yang dapat menjaga dan memelihara kepercayaan publik, menjalankan aktivitas penghimpunan dana ZIS, manajemen dan keuangan internal, pendayagunaan dana ZIS secara efektif dan efisien, serta mengedepankan pengelolaan lembaga dengan manajemen profesional. Dengan menjalankan fungsi-fungsi tersebut diharapkan OPZ dapat memberikan pelayanan yang baik kepada publik serta memberikan manfaat baik secara sosial maupun ekonomi secara keseluruhan.

Apresiasi Kinerja Organisasi Zakat 

Mengingat peran OPZ yang begitu strategis dalam membangun masyarakat baik secara sosial maupun ekonomi, maka yang berkepentingan terhadap tingkat kesehatan OPZ bukan hanya OPZ yang bersangkutan, tetapi juga masyarakat secara keseluruhan, terutama muzaki yang hendak membayar zakat. Sebab, salah satu faktor utama belum optimalnya pengelolaan zakat di Indonesia adalah masih rendahnya kesadaran masyarakat (muzaki) untuk membayar zakat melalui lembaga amil. Belum terbangunnya kepercayaan masyarakat terhadap lembaga pengelola zakat, akibat dari belum optimalnya transparansi dan kredibilitas lembaga amil.

Membangun citra organisasi pengelola zakat yang amanah dan profesional penting untuk dilakukan mengingat saat ini telah terjadi krisis kepercayaan antar sesama komponen masyarakat. Pembangunan citra ini merupakan hal yang sangat fundamental. Citra yang kuat dan baik, akan menggiring masyarakat yang terkategorikan sebagai muzaki agar bersedia menyalurkan dana zakatnya melalui amil. Sebaliknya buruknya pencitraan hanya akan mengakibatkan rendahnya partisiapsi muzaki untuk membayarkan zakatnya melalui lembaga amil. Upaya memberikan apresiasi atas kinerja organisasi pengelola zakat dapat menjadi faktor pendukung atau enabling environment dalam pembangunan citra OPZ yang amanah dan profesional.

Apresiasi atas capaian positif kinerja lembaga pengelola zakat melalui IMZ Award, menjadi ikhtiar strategis dalam membangun citra perzakatan secara nasional, bahkan di dunia Islam secara global.

Ia bermakna ganda. Ke dalam (masyarakat perzakatan), mendorong peningkatan kapasitas dan kapabilitas organisasi pengelola zakat, sedangkan ke luar (masyarakat pada umumnya), bermakna syi’ar, bahwa di tengah gejala global ‘masyarakat sakit’ masih ada segelintir orang berjuang menegakkan transparansi, serta berkompetisi meningkatkan kompetensi pada upaya pengentasan kemiskinan melalui zakat. antara lain bertujuan memotivasi organisasi pengelola zakat untuk meningkatkan profesionalitas, akuntabilitas dan transparansi, serta membangun iklim kondusif menuju gerakan sistemik pengentasan kemiskinan. Ungkapan sistemik mengandung makna sinergi.  

Menuju Sinergi Zakat Dunia

 

Saat ini, masyarakat perzakatan Indonesia telah memasuki fase mengglobal. Selain sejumlah ikhtiar sinersitas lintasbangsa yang dilakukan sejumlah OPZ, upaya lebih padu juga kian eksis. Misalnya, berkiprahnya World Zakat Forum (WZF) yang dideklarasikan di Yogyakarta 1 Oktober 2010, yang merupakan forum pertemuan para pelaku dan pemerhati zakat se-dunia, yang bertujuan mengupayakan kerjasama atau sinergi zakat tingkat dunia serta melakukan sosialisasi dan advokasi kepada berbagai pihak dalam rangka mewujudkan peradaban zakat.

Bertolak dari tujuan itu, langkah lanjutan menggalang kepedulian dan sinergi zakat dunia terus bergulir. Dihadapkan tujuan internasional ini, mau tak mau, setiap OPZ di Indonesia perlu membenahi diri pada kompetensi dan kapabilitas lembaganya agar layak bersanding dengan bangsa-bangsa lain. Dalam sejumlah hal, OPZ mancanegara belajar dari OPZ Indonesia. Kita mendengar sendiri decak kagum mereka melihat tingkat kesulitan dan luasan wilayah kerja OPZ di Indonesia, di tengah keterbatasan imbal jasa bagi pegiat zakat di medan yang begitu beratnya. Di sisi lain, jangan menutup mata akan adanya kelemahan di banyak OPZ kita.

Pelaksanaan IMZ Award 2011, Rabu, 3 Agustus 2011 di Jakarta, menjadi matarantai ikhtiar membangun semangat kompetifif, mendorong peningkatan kompetensi, menuju sinergi OPZ lintas bangsa. Ini langkah penyadaran bagi pegiat zakat, sudah di titik manakah ia berada, sudah layakkah bersinergi dengan masyarakat zakat internasional. Zakat, dengan manajemen yang baik dan visioner, menuntut kesungguhan membenahi organisasi. Pengelolaan zakat dengan demikian, menuntut sumberdaya terbaik, mengingat area pengabdiannya yang luas serta seribu satu peluang memuliakan ummat. Melalui kiprah OPZ berkualifikasi internasional, insyaAllah, citra bangsa Indonesia pun ikut cemerlang, menepis kelam yang telanjur ditoreh sebagian anak bangsa kita sendiri. Semoga Allah meridhai.

(Penulis adalah Direktur The Indonesia Magnificence of Zakat – IMZ) 

بقلم: نانا منتارتي

 

الزكاة في اندونيسيا شهدت تجددا في يد المجتمع المدني في سنة 1990.  فى هذا العصر أصبح معروفا على تنظيم إدارة الزكاة محترفة على أساس مبادئ الإدارة الحديثة والإدارة الجيدة. في بداية هذا العصر بدأت إمكانات الزكاة في اندونيسيا ترتقى مع الأثر الذي حفرها أكثر أهمية وعلى نطاق أوسع.  أهم نقطة تحول عالم الزكاة في إندونيسيا وقعت في سنة 1999، وحينئذ دخلت الزكاة في القانون الوضعى رسميا مع صدور القانون رقم 38/1999 بشأن إدارة الزكاة.

بعد تطبيق القانون رقم 38 سنة 1999، تنمو مؤسسات الزكاة كالفطر في موسم الأمطار، إما في المؤسسات المركزية أو في المؤسسات الإقليمية. إلى الآن هناك هيئة الزكاة الوطنى (BAZNAS) وما لا يقل 18 مؤسسة عامل الزكاة (LAZ) على المستوى الوطني، و33  لجنة الزكاة على مستوى المحافظات، و 429 لجنة الزكاة  على المستوى المدينة. وتلك الأرقام لعدد لجنة الزكاة لم تشتمل على مؤسسات عمال الزكاة فى قطاع خاص،  حيث أن عددها بلغ 4771 مؤسسة على مستوى الحي أو القرية، وأيضا هناك تسمية أخرى نحو مؤسسة الزكاة على قطاع خاص وهى وحدة جمع الزكاة (UPZ) على أسس المساجد أو المعاهد الإسلامية التى تجريها عمال  الزكاة التقليدي والفردي.  من جهة، هذا الاتجاه هو إيجابي لأن عالم الزكاة في إندونيسيا ينمو نموا ديناميكيا للغاية. لكن إذا نظرنا من جهة أخرى، فإن هذا الاتجاه يمكن أن يسبب المشاكل، خصوصا فيما يتعلق بالإدارة  والثقة العامة لدى مؤسسة الزكاة.

 إن النمو السريع لمؤسسات الزكاة لم ترافقها جهود لتعزيز القدرات التنظيمية، وبالتالي فإن تفاوت القدرة على إدارة الزكاة لاتزال عالية جدا. عامة الناس لا تزال ترى أن أداء مؤسسات الزكاة لم تكن مثالية. معظم هذه المؤسسات لم تكن فعالة في جمع وتوزيع الزكاة.وكذالك معظم مؤسسة الزكاة لم تكم ثقافةها موجهة في بناء المؤسسة و النظام. حيث أنها لا بد من تحققها في المؤسسة إذا رغبت في القيام بدور هام في معالجة مشكلة الفقر.

بناء المزايا والكفاءات لمؤسسة الزكاة

المنظمة / إدارة مؤسسات الزكاة (OPZ) هي  التى في عملها تدير الأموال العامة.  لقد أصبح واجبا على المؤسسات العامة لحساب الأموال المدارة للجمهور بطريقة شفافية.  ومن ثم تطلب على كل مؤسسة الزكاة أن تكون موثوقة.و نجاح أداء إدارة الزكاة لا ينظر إلي عدد أموال الزكاة التي تم جمعها، بل على أثر التوزيع والاستفادة من الزكاة في تحقيق الرفاة والعدالة الاجتماعية في المجتمع. فأنى من المزكى لم يكن سعيدا، إذا نظر أموال الزكاة التى يزكها من خلال مؤسسة الزكاة ، جنبا إلى جنب مع مزكى الآخرين، أدوا فى بناء مدرسة مجانية، و منزل صحي مجاني، وأصحاب المشاريع أو المقاولون الصغيرة والمتوسطة، وحتى يتعاطفون الأيتام في بلدان أخرى.

ولذلك، فإن مؤسسة الزكاة في حاجة إلى بناء كفاءتها. وهذا إذا كانت لها رغبة في تعظيم الآثار الاجتماعية المترتبة على الاستفادة من أموال الزكاة باعتباره الهدف الرئيسي لإنشاء مؤسسة عمال الزكاة.  ولكن نرى في الواقع  أن العديد من مؤسسة الزكاة تتجاهل في بناء كفاءتها، ولا سيما من حيث تطوير ونشر برنامج التمكين والإحسان.

بناء كفاءة مؤسسة الزكاة معناها  أوسع نطاقا من مجرد التطوير التنظيمي أو المؤسسي، لأنه يشمل كل نظام، والبيئة، أو بعبارة أخرى  أن كل الأفراد والمنظمات والجمعيات تعمل وتتفاعل. وتعرف الكفاءة بأنها قدرة الأفراد والمنظمات في تنفيذ مهامها بفعالية، وعلى نحو مستدام. والكفاءة تعرف بأنها هي القوة (السلطة) من هذه الأشياء الثلاثة (لنظام، أو منظمة، أو شخص) ألتى غايتها العمل أو الإنتاج. وبالإضافة إلى ذلك، يمكن تعريف الكفاءة بأنها القدرة على حل المشكلات، لتحقيق أو مواصلة المهمة، وكذلك لتحقيق جميع الأهداف العامة.

وبالبساطة يمكننا القول أن مؤسسة الزكاة الصحية هى التى تجرى على وظائفها بشكل صحيح. وبعبارة أخرى أن تعريف مؤسسة الزكاة الصحية هي المؤسسة القادرة على الحفاظ  والرعايات على ثقة الجمهور، الشاغلة على أنشطة جمع التبرعات، والإدارة و المالية الداخلية، واستخدام التبرعات بفعالية وكفاءة، وتعزيز الإدارة للمؤسسة بالإدارة المحترفة. بتشغيل الوظائف  المذكورة يمكن أن تقدم الخدمة الجيدة للجمهور، وتوفر الفوائد سواء كانت اجتماعيا أم اقتصاديا.

اعتزاز أداء مؤسسة الزكاة

نظرا للدور الاستراتيجي لمؤسسة الزكاة في بناء المجتمع  سواء كان اجتماعيا أم اقتصاديا، فإن الاهتمام بصحتها ليست فقط ذات الصلة بها، ولكن أيضا للمجتمع ككل، وخصوصا على الذين يريدون دفع الزكاة. ولذلك، أحد العوامل الرئيسية التى تسبب على عدم الإدارة المثلى للزكاة في اندونيسيا هى قلة الوعي في المجتمع على دفع الزكاة عن طريق مؤسسات الزكاة.  عدم الثقة الصحوة العامة لدى مؤسسات الزكاة نتيجة على عدم الشفافية والمصداقية المثلى.

بناء الصورة الجيدة لدى المجتمع نحو مؤسسات الزكاة الموثوقة والمهنية هو الشيء المهم الذى لابد لمؤسسات الزكاة مراعنه نظرا لوقوع الأزمة الراهنة من الثقة بين أفراد المجتمع.  بناء هذه الصورة الجيدة هو أساسي جدا.  صورة قوية وجيدة سوف تؤدي إلى دفع المزكين  الزكاة عن طريق مؤسسة الزكاة.  وعلى النقيض من ذالك أن الصورة القبيحة سوف تؤدي إلى أدنى اشتراك المزكين  على دفع الزكاة من خلال مؤسسة الزكاة.  الجهد أو السعى على اعتزاز أداء مؤسسة الزكاة  يكون عاملا مساعدا في بناء صورة جيدة لدى منظمة مؤسسة الزكاة الموثوقة والمهنية.

اعتزازا على النتائج الايجابية في أداء مؤسسات الزكاة من خلال جائزة إ.م.ز.، هي سعي استراتيجي في بناء الصورة الجيدة نحو مؤسسة الزكاة وطنيا بل في العالم الإسلامي عموما. ولهذا الاعتزاز معنيان. الاول معنى الداخلى (المجتمع الزكاتى) وهو   تشجيع زيادة كفاءة وقدرة منظمة مؤسسة الزكاة.  والثاني معنى الخارجى (المجتمع بشكل عام) وهو الدعوة  بشكل ملحوظ أنه في خلال”مجتمع مريض” هناك قلة قليلة من المجتمع يكافحون من أجل تطبيق الشفافية، ثم يتنافسون في ارتفاع الكفاءة على تخفيف الفقر من خلال الزكاة. من بين أمور أخرى، تهدف إلى تشجيع مؤسسات الزكاة على تعزيز الكفاءة المهنية والشفافية، وكذالك بناء البيئة الملائمة على اقامة الحركة في تخفيف مشاكل الفقر.

نحو تآزر الزكاة العالمى

حاليا، دخلت مؤسسة الزكاة بإندونيسيا في المرحلة العالمية.  بالإضافة إلى عدد من الجهود نحو تآزر بين الدول التى تجريها عددا من مؤسسات الزكاة، وأصبحت أيضا بذل جهد أكثر توحدا في الوجود. على سبيل المثال، المنتدى العالمي للزكاة (World Zakat Forum)   المنعقد في التاريخ 1 أكتوبر 2010 في يوغياكارتا، الذي هو اجتماع عمال و مرافقين الزكاة في العالم، والتي تهدف إلى السعي على  التعاون أو التآزرعالميا والاحسان ونشر المعلومات والدعوة إلى مختلف الأطراف من أجل تحقيق حضارة الزكاة.

انطلاقا من هذا الهدف، الخطوات المتبعات  لرفع الوعي والتآزر الزكاتى على مستوي العالم لا تزال تستمر. مؤجهة هذا الهدف العالمى، لكل مؤسسة الوكاة لا محالة من إعداد نفسها على الكفاءة و القدرة لتكون قابلة جنبا إلى جنب مع مؤسسة الزكاة من الدول الأخرى. في بعض الحالات، تأخذ مؤسسة الزكاة من بلد أخرى درسا وعبارة من مؤسسةالزكاة بإندونيسيا. نسمع منهم إعجابا نجونا على مستوى الصعوبة ومدى مجال العمل الذى واجهنا، كما واجه مؤسسة الزكاة بمحافظة ميدان سومطرة الشمالية على قلة الأجرة التى نالتها مع أن المجال هو ثقيل جدا.  وعلى الجانب الآخر، لا نغمض عيننا أن هناك نقطة ضعف في العديد من مؤسسة الزكاة لدينا.

تنفيذ جائزة IMZ 2011،  المؤافق فى يوم الاربعاء 3 أغسطس 2011 بجاكرتا، صلة التنافس بين مؤسسة الزكاة  والسعي لبناء روح التنافس، وتشجيع في زيادة الكفاءة، من أجل تآزر منظمة مؤسسة الزكاة فى جميع انحاء البلاد.  وكانت هذه الخطوة هي الوعي علي عمال الزكاة، أين مكانتها بين مؤسسة الزكاة الموجودة، هل يستحق التآزر مع مؤسسة الزكاة الدولية. الزكاة مع حسن الادارة، والبصيرة، تطالب الكفاح لإصلاح المنظمة. إدارة الزكاة على هذا النحو، يتطلب موارد أفضل، نظرا لمساحة التكريس الواسعة، وكذالك عن ندرة لتمجيد الأمة. من خلال السعي وراء مؤسسات الزكاة المؤهلات على مستوى العالم ، فإن شاء الله صورة بلدة اندونيسيا تكون جيدة، دفعا على الاخطاء التى فعلها بعض من أبناء بلدنا. والله أعلم.

(الكاتب هو مدير برنامج روعة الزكاة إندونيسيا)

By: Nana Mintarti*

Concerns over zakat in Indonesia were raised by civil community organizations during the 1990s. This era was later known as the era of modern-professional zakat management using the principles of management and good organization governance. Since then, we continued to see increasing and expanding zakat potencies in Indonesia. The most important turn point in the Indonesian world of zakat occurred in 1999. From 1999 onwards, zakat is formally included in the domain of positive law in Indonesia with the issuance of Zakat Management Act No 38/1999.

After the Zakat Management Act being imposed, numerous zakat management organizations emerged, both at national and local levels. Today, there are the National Amil Zakat Agency (BAZNAS) and 18 national Amil Zakat Body (LAZ), 33 provincial Amil Zakat Agencies (BAZ), and 429 BAZ at the level of regency/municipality. There are also at least 4,771 district units of BAZ, Zakat Collecting Units (UPZ) and numerous mosque and pesantren-based traditional-individual amil zakat. On one side, this is a positive tendency because it has encouraged more dynamic zakat management in Indonesia. However, on the other side, it potentially causes problems, particularly related to zakat governance and people’s trust.

The vast development of zakat management organization is yet to be accompanies by efforts to strengthen its organizational aspects, which caused relatively high disparity of capacity among them. In general, public still see their performance as less optimum. Most of these organizations haven’t practiced effective and efficient zakat collection and distribution. The basic culture of most of zakat management organizations in Indonesia is not oriented to institution and system strengthening; while in fact, this is mostly important to allow zakat organizations to play significant role in poverty eradication.

Building Zakat Organization Excellence and Competence

Zakat management organization (OPZ) is public institution that manages public funds. This organization is responsible to maintain their transparency and accountability in managing the funds. Each zakat organization is bound to be trustable institution before the public’s eyes. The success of a zakat management organization not only depends on the amount of funds collected, but more importantly on the impacts of zakat distribution and utilization to the community welfare and social justice. Every muzaki will be more than happy to see that their zakat funds are optimally distributed by amil institution and manifested into free education, free housing, and business capitals for many small and middle enterprises, or even supports for the dhuafa in other countries.

For that, OPZ needs to build its organizational capacity to maximize the social impacts of zakat utilization. Unfortunately, many OPZ neglected the significance of capacity building program, especially in developing and expanding zakat utilization and empowerment programs.

Building the capacity has a broader meaning than just organizational or institutional development, for it encompasses the whole system, environment or context in which individuals, organizations and societies operate and interact. Capacity is defined as the ability of individuals and organizations in carrying out its functions effectively, efficiently, and sustainably. Capacity is the power (power) of a thing (could be a system, an organization, or person) to work or to produce something. Moreover, capacity can be defined as the ability to solve problems, to achieve or carry on with the mission, as well as to achieve the overall objectives.

In simple words, we can say that a healthy OPZ is an OPZ that carries out its functions properly. In other words, a healthy OPZ is an OPZ that effectively and efficienctly keeps and maintains the public trust, runs the ZIS fund collecting activities, applies internal financial management, and promotes the concept of professional management. By running these functions, OPZ is expected to provide good service and benefits both socially and economically to public.

 

Appreciation for Zakat Organization Performance

Given the strategic role of OPZ in building communities both socially and economically, concern for the health of OPZ is not coming only from the organization itself, but also from the community in general, especially from muzakki. One of the main factors to the less optimum zakat management in Indonesia is the low awareness among the zakat payers (muzaki) to distribute their zakat throuogh amil institutions. Such low trust was a result of the lack of transparency and credibility of these institutions.

Building a trusted and professional image for zakat organization is important today, considering that a serious lack of trust between the community members is occurring. Image building is then a very fundamental issue, because a strong and good image will convince muzaki to distribute their zakat through these organizations. On the contrary, bad image of zakat organization will disencourage muzaki from entrusting their zakat funds. The efforts to give appreciation on the performance of zakat management organization could be part of the enabling environment in building trusted and professional image of OPZ.

Appreciation for the positive performance of zakat management organization through the IMZ Award has become a strategic effort in building national image of zakat, even to the level of global Islamic world. This strategy turns out to be effective to both ways. Inwards, it promotes zakat organization capacity and capability building, while outwards, it “announced” to the public that amidst the global phenomenon of a “sick community”, there are few people that are committed to fight for better transparency and to alleviate poverty using zakat as the tool. This kind of appreciation also motivates zakat organization to improve their professionalism, accountability, and transparency, as well as creates a favorable environment for a systemic move to alleviate poverty. In this case, systemic move means synergy.

Towards Global Synergy for Zakat

The Indonesian community of zakat is entering the globalization, with numerous cross-nations efforts are carried out by OPZ. Take example the World Zakat Forum (WZF) held in Yogyakarta on October 1, 2010, which was a global forum for zakat practitioners and observers. The forum aimed at promoting global partnership and synergy for zakat and intensifying socialization and advocacy to a wider scope of public to realize zakat civilization.

From this point, numerous efforts to gather awareness on global synergy for zakat continued emerging. Given such global goals, every OPZ in Indonesia must improve their competence and capability to level similar organizations from other countries. However, for certain issues, Indonesian OPZ shared their experiences with foreign OPZ. We witnessed these foreign OPZ’ amazement when they realize the degree of difficulties, the scope or work area and the challenges faced by OPZ in Indonesia, which they tackled with all the limitations and the lack of appreciation for their hard works. Still, we must admit that we have to make many improvements.

            The 2011 IMZ Award presented on August 3, 2011 in Jakarta, becomes the starting point in the efforts to create competitiveness and promote OPZ competence towards the cross nations OPZ synergy. It marks the journey of zakat organization in Indonesia, where OPZ can determine whether they are ready for synergy with international zakat community. A good and farsighted management system in zakat organization requires the best human resources, considering the vast work area to be handled and the large opportunities to improve people’s welfare. Through internationally qualified OPZ, insya Allah, Indonesia will gain good image to cover the blemishes and imperfections on our faces. May Allah bless our efforts.

(Author is the Director of  IMZ)

]]>