• Phone: (021)-7418-607
  • info@imz.or.id
Stay Connected:

Banyak siswa putus sekolah dan tak berijazah karena tak memiliki biaya.
JAKARTA – Lembaga amil zakat terus bergerak mendayagunakan dana zakat, infak, dan sedekah dengan beragam program. Salah satunya di bidang pendidikan. Al-Azhar Peduli Umat, misalnya, mengusung program ‘Beasiswa 3G, Bantu Bangku Kosong’. Sedangkan Pos Keadilan Peduli Umat (PKPU) dengan program ‘Aku Mau Pintar’.
Direktur Al-Azhar Peduli Umat, Anwar Sani, mengatakan, program beasiswa ini diluncurkan berdekatan dengan momen tahun ajaran baru. Siswa dhuafa yang pada tahun ajaran baru ini menginjak kelas tiga SMA, menjadi target program. ”Kami ingin membantu mereka agar bisa menyelesaikan belajarnya,” katanya, di Jakarta, Kamis (3/6).
Berdasarkan data dan informasi yang dihimpun, selama ini banyak siswa yang menginjak kelas 3 SMA, tak mampu melanjutkan sekolah. Mereka terpaksa harus meninggalkan bangku sekolah dan tak memiliki ijazah. Anwar mengatakan, kondisi ini karena mereka tak memiliki biaya.
Dengan kenyataan ini, Al-Azhar Peduli Umat ingin mereka bisa tetap menyelesaikan sekolahnya. Untuk tahap rintisan dan mengacu pada hasil survei terhadap sekitar 20 SMA di Jakarta, Bogor, Depok, Tangerang, dan Bekasi, akan ada 100 siswa yang mendapatkan beasiswa, besarnya Rp 300 ribu per bulan hingga mereka lulus SMA.
Anwar mengungkapkan, melalui beasiswa ini diharapkan membuat mereka tetap bisa sekolah dan mengurangi bangku kosong di sekolah siswa bersangkutan. Pada praktiknya nanti, beasiswa per bulan akan dibayarkan langsung ke pihak sekolah. Kelebihan biaya per bulan, disimpan oleh tim khusus Al-Azhar, untuk biaya ujian dan keperluan lainnya.
Program ini rencananya akan dilakukan secara berkelanjutan. Dana yang digunakan untuk menjalankan program diambil dari dana zakat. Sebab, beasiswa diberikan kepada siswa dhuafa. ”Bisa pula menggunakan dana infak yang didonasikan masyarakat sebagai beasiswa,” ujar Anwar.
Menurut Anwar, Al-Azhar Peduli Umat juga mungkin bisa membantu penerima beasiswa yang kelak setelah lulus tak bisa melanjutkan sekolah. Ia mengatakan, mungkin mereka bisa mendapatkan pembinaan melalui program Rumah Gemilang. Sejumlah keterampilan diajarkan di sana, yaitu menjahit, fotogragi, videografi, dan desain grafis.
Secara terpisah, Direktur PKPU, Agung Notowiguno, mengatakan, program ‘Aku Mau  Pintar’ digagas untuk anak-anak yang tak bisa mengikuti sekolah formal. ”Program ini bagi mereka yang karena kondisi ekonomi orang tuanya, tak bisa sekolah karena mungkin terpaksa harus bekerja saat waktunya anak-anak lain bersekolah,” katanya.
Mereka, ujar dia, berhak mendapatkan pendidikan dasar dan tentu juga ingin pintar seperti anak-anak lainnya.  Paling tidak, mereka pintar membaca, menulis, dan menghitung. Pendidikan agama juga diajarkan kepada mereka. Ini dilakukan serentak di 17 provinsi.
Program yang dikenalkan pada Juni ini, jelas Agung,  merupakan bagian dari program besar PKPU yang telah berjalan, yaitu sekolah berbasis komunitas.
Republika, Jumat 4 Juni 2010, Halaman 12