• Phone: (021)-7418-607
  • info@imz.or.id
Stay Connected:

Ciputat, 14 Oktober 2011

“Agar program pemberdayaan dapat memberikan manfaat optimal dan mampu memberi manfaat dalam jangka panjang, lembaga zakat harus menemukenali permasalahan di masyarakat secara langsung dan melibatkan masyarakat secara penuh”

Pemberdayaan: Pelibatan masyarakat secara penuh secara penuh dan utuh

Sebagai lembaga yang memiliki tujuan sosial, lembaga zakat kini kian mulai menyadari bahwa program-program yang berupa pemberdayaan adalah jawaban atas segala permasalahan sosial ekonomi yang kini menghinggapi masyarakat. Karena disamping mampu memberikan manfaat yang jauh lama dibandingkan dengan program-program yang bersifat karitas (charity), program pemberdayaan juga memiliki efek pengganda (multiplier effect) yang mampu menstimulus kehidupan ekonomi suatu masyarakat.

Namun terkadang yang menjadi kendala adalah manfaat suatu program pemberdayaan akan berakhir seiring berakhirnya penyelenggaraan program. Misalnya, ketika ada suatu lembaga zakat yang memberikan program pemberdayaan berupa pendirian dan pendampingan koperasi. Seringkali ditemukan fakta di lapangan bahwa koperasi tersebut dapat memberikan manfaat hanya ketika proses pendampingan oleh lembaga zakat tersebut masih berlangsung. Ketika lembaga zakat tersebut tak lagi melakukan pendampingan atau dengan kata lain ketika lembaga zakat “menyudahi” program maka koperasi tersebut akan tutup dan masyarakat enggan meneruskannya secara mandiri. Hal ini terjadi dikarenakan masyarakat tidak merasa benar-benar butuh dan memiliki secara utuh program yang sudah diinisiasi lembaga zakat tersebut. Salah satu enyebabnya karena masyarakat hanya ditempatkan sebagai objek program, bukan sebagai subjek program.

Sehingga, agar program pemberdayaan dapat memberikan manfaat optimal dan mampu memberi manfaat dalam jangka panjang lembaga zakat harus menemukenali permasalahan di masyarakat secara langsung dan harus melibatkan masyarakat secara penuh. Mulai dari proses perencanaan hingga proses implementasi. Sehingga masyarakat merasa benar-benar memiliki, membutuhkan dan bertanggung jawab atas program-program yang didesain oleh suatu lembaga zakat. Dalam arti kata lain, lembaga zakat juga perlu membantu masyarakat dalam menemukan permasalahan yang ada di daerah mereka dan mendampingi ketika program-program pemberdayaan telah dijalankan. Outputnya adalah efektifitas dan efisiensi program. Efektif, karena akan menghasilkan program yang benar-benar dibutuhkan oleh masyarakat. Efisien karena masyarakat akan terlibat secara penuh. Jadi pendamping hanya berperan untuk mendampingi dan mengarahkan.

Salah satu pendekatan yang digunakan dalam membuat program pemberdayaan masyarakat dengan melibatkan masyarakat secara penuh adalah dengan metode atau pendekatan Participatory Rural Appraisal (PRA). PRA adalah Sekumpulan pendekatan dan metode yang mendorong masyarakat pedesaan untuk turut serta meningkatkan dan menganalisis pengetahuan mereka mengenai hidup dan kondisi mereka sendiri, agar mereka dapat membuat rencana dan tindakan.

Pelatihan PRA di Desa Buanajaya

Agar semakin banyak lembaga zakat yang memahami pendekatan PRA dalam perancangan suatu program pemberdayaan, pada tanggal 27 sampai dengan 30 september 2011 Indonesia Magnificence of Zakat (IMZ) mengadakan pelatihan bertajuk “Pelatihan Pendamping Program Pemberdayaan Masyarakat Desa”. Pelatihan ini berlangsung di Desa Buanajaya yang berada di daerah perbatasan kabupaten bogor dan cianjur. Acara pelatihan ini diiikuti oleh 12 peserta dari berbagai lembaga zakat yaitu UPZ BNI Syariah, UPZ ESQ, DPU Daarut Tauhid, BAZ Kota Bekasi. Selain itu, pelatihan ini juga dihadiri oleh perwakilan LAZIS Jateng, BAZ Tanjung Pinang Riau, Yayasan Ridha Tangerang, Dompet Dhuafa Kal-Tim dan Yatim Mandiri Surabaya.

Berbeda dengan pelatihan-pelatihan IMZ sebelumnya, pelatihan kali ini didesain diadakan di tengah-tengah masyarakat. Agar semakin memahami kondisi masyarakat, peserta pun tinggal di rumah-rumah warga. Dalam pelatihan ini, peserta mendapatkan pencerahan materi tentang pemberdayaan dan metode PRA oleh Ibu Nana Mintarti yang kini menjabat sebagai DIrektur IMZ. Dalam penyampaiannya, ibu Nana menekankan pentingnya keterlibatan masyarakat secara penuh dalam setiap program pemberdayaan yang dibuat suatu lembaga zakat agar masyarakat merasa benar-benar memiliki dan ikut bertanggung jawab atas program yang telah dinisiasi. “Agar program dapat optimal dan dapat bertahan dalam waktu yang relatif lama maka kita tak boleh lagi memandang masyarakat sebagai objek program, tetapi kita harus memposisiskan masyarakat sebagai subjek program. Sehingga masyarakat merasa benar-benar merasa terlibat dan memiliki program-program tersebut” tutur ibu Nana yang pernah menjadi Direktur Masyarakat Mandiri Dompet Dhuafa .

Selain mendapatkan pemaparan tentang materi PRA, peserta juga langsung menerapkan metode PRA dengan terjun langsung ke masyarakat untuk menganalisis potensi, masalah serta kebutuhan masyarakat. Peserta langsung mempraktekan tujuh teknik kajian PRA dalam menganalisis setiap hal-hal yang dapat menjadi pertimbangan dalam mendesain suatu program. Peserta ditugaskan untuk melakukan wawancara langsung dengan warga dan melakukan penlusuran demografi desa untuk mengetahui potensi dan sumber daya alam desa yang berada di kawasan pegunungan tersebut. Proses identifikasi dan assessment ini dipandu dan difasilitasi oleh ibu Saharti yang pernah menjadi pendamping masyarakat di desa ini pada periode tahun 2005 hingga tahun 2008.

Setelah melakukan identifikasi potensi, masalah dan kebutuhan masyarakat, peserta diberikan kesempatan untuk menyampaikan dan merekomendasikan hasil analisisnya kepada warga sekitar. Sehingga masyarakat mendapatkan manfaat langsung dan masyarakat lebih mengetahui potensi-potensi yang ada di desa mereka yang sebelumnya belum sempat terpikirkan. Di akhir acara, para warga juga menyampaikan rasa terima kasih dan harapan agar semakin banyak lembaga zakat yang terus meningkatkan program pemberdayaannya di desa-desa terpencil seperti di desa Buanajaya.

“Pelatihan Pendamping Program Pemberdayaan Masyarakat Desa” merupakan bentuk ikhtiar kita bersama agar semakin banyak masyarakat yang dapat terbantu dari program-program pemberdayaan oleh setiap LAZ sehingga permaslahan ekonomi masyarakat dapat terurai satu persatu. Semoga. (CB/IMZ)

 

]]>