TRADISI PENCAK SILAT JAWA BARAT
Penyusun Buku : H. Daswara Sulanjana Haryo Mojopahit, Prasetyo Wibowo, Shegi Juniar Dani, R.H. Azis Asy’arie, Muhammad Kamal
Ukuran Buku : 21 x 14 cm
Jumlah Halaman : 190 hlm
Penerbit: DD Publishing
ISBN: Dalam Proses
PRE-ORDER
Harga : Warna Rp.190.000 | Hitam Putih Rp.95.000
Sinopsis
Buku Inspirasi dari Belantara Parahyangan: Tradisi Pencak Silat Jawa Barat merupakan karya dokumentatif dan reflektif yang mengangkat kembali kekayaan tradisi pencak silat di tanah Parahyangan, khususnya dua aliran penting: Sera dan Cikalong. Disusun oleh tim penulis yang peduli terhadap pelestarian budaya, buku ini hadir sebagai respon atas kekhawatiran akan semakin memudarnya tradisi pencak silat di tengah gempuran budaya dan bela diri modern dari luar negeri.
Buku ini diawali dengan pembahasan tentang posisi pencak silat sebagai warisan budaya luhur bangsa yang bukan sekadar seni bela diri, melainkan juga sarat nilai spiritual, moral, estetika, dan pembentukan karakter. Pencak silat dipahami sebagai harmoni antara olah gerak (fisik), olah rasa (mental-spiritual), olah seni (estetika), dan olah olahraga (kesehatan). Melalui pendekatan historis, penulis menelusuri jejak pencak silat sejak masa pra-sejarah, era kerajaan, masa kolonial, hingga pasca kemerdekaan dan pengakuannya sebagai Warisan Budaya Tak Benda oleh UNESCO.
Secara khusus, buku ini mengulas empat aliran utama pencak silat di Jawa Barat, yakni Cimande, Syahbandar, Sera, dan Cikalong. Namun pembahasan paling mendalam diberikan kepada Aliran Sera dan Maenpo Cikalong. Aliran Sera dikaji dari aspek sejarahnya yang sarat dengan nilai perlawanan, filosofi hidup, teknik dasar, jurus, hingga ilmu turunan seperti gerak rasa, pernapasan, pijat, dan pengobatan tradisional. Sementara Maenpo Cikalong dipaparkan sebagai aliran bergaya lembut namun efektif, dengan penekanan pada kepekaan rasa, keseimbangan, dan penguasaan teknik yang presisi.
Selain aspek teknik dan filosofi, buku ini juga menyoroti pentingnya dokumentasi dan regenerasi ilmu silat agar tidak punah. Diperkenalkan pula peran Kampung Silat Jampang sebagai model pemberdayaan berbasis budaya melalui konsep culturepreneurship, yang mengintegrasikan pelestarian silat dengan penguatan ekonomi masyarakat.
Secara keseluruhan, buku ini bukan hanya menjadi referensi akademik mengenai sejarah dan teknik pencak silat Jawa Barat, tetapi juga menjadi ajakan reflektif untuk menjaga, menghidupkan, dan menanamkan kembali nilai-nilai luhur pencak silat sebagai bagian dari jati diri bangsa dan pembangunan karakter generasi muda.