• Phone: (021)-7418-607
  • info@imz.or.id
Stay Connected:

Seorang amil datang ke ruangan saya dan meminta maaf karena cutinya melebihi jumlah hari yang diijinkan. Saat pulang kampung liburan Idul Fitri kemarin, ia tak dapat tiket kendaraan untuk kembali ke Jakarta di tanggal yang dicarinya. Sementara, sebagai amil baru dia tak punya hak cuti lebih.

“Kesalahan terhadap lembaga akan mendapat konsekuensi sesuai aturan yang berlaku. Tapi ada yang lebih penting dari itu,” jawab saya setelah ia menjelaskan duduk perkaranya.

“Apa itu, mas?” tanyanya. Di sini memang semua orang yang lebih senior dipanggil mas atau mba; tak ada panggilan pak atau bu.

“Kita bekerja di sini untuk berjuang dan mendapatkan keberkahan dari Allah. Jangan sampai keberkahan itu ditarik kembali oleh Allah karena kita tidak amanah. Kita ini amil zakat. Kita dibayar dengan uang zakat. Jadi kalau kita berbuat salah, kita bukan hanya bersalah kepada lembaga, tapi juga bersalah kepada para muzakki yang mempercayai kita.”

Saya memperbaiki posisi duduk dan melanjutkan bicara, “Kita menyebut kontrak kerja amil dengan istilah akad. Akad perjanjian kita hakikatnya adalah perjanjian dengan Allah. Lembaga hanya mewakili Allah dalam menjalankan perannya sebagai pengelola. Jadi kalau kita berbuat salah, hakikatnya kita bersalah kepada Allah.”

“Saya siap menerima sangsinya mas,” jawabnya mantap. Sorot matanya menunjukkan ia menyesal dan mau bertanggung jawab. Saya percaya dengan kata-katanya.

“Sangsi dari lembaga akan saya berikan. Tapi bagaimana dengan kesalahanmu kepada Allah? Saya tidak bisa mewakili Allah untuk urusan yang satu ini. Ini urusan pribadi-Mu dengan Allah.”

Dia kelihatan terkejut dengan jawaban saya.

“Jadi saya harus bagaimana untuk menebus kesalahan kepada Allah?”

“Bertaubatlah. Semoga Allah bersedia mengampunimu. Engkau bisa meniru Umar bin Khattab dalam bertaubat. Ia mengganti setiap satu kesalahan yang dilakukannya di masa lampau dengan sepuluh kebaikan. Pikirkan kebaikan apa yang akan kau lakukan untuk menebus kesalahanmu. Dan jangan ditunda. Kita tidak pernah tahu sampai kapan Allah akan memberi kita kesempatan.”

Dia terdiam cukup lama. Mungkin sedang mencari hal yang akan dilakukannya untuk menebus kesalahan. Saya membiarkannya.

“Saya sudah ketemu satu amalan untuk mengganti kesalahan saya,” katanya kemudian.

“Boleh saya tahu amalan apa itu?” tanya saya penasaran.

“Saya akan infaqkan sebagian gaji saya dan berpuasa sejumlah hari yang saya tidak masuk kerja,” katanya sungguh-sungguh.

Saya ucapkan hamdalah dalam hati dan mendoakan kebaikan untuknya.

“Semoga Allah menghapus kesalahanmu dan mengangkat derajatmu di sisi Allah. Titip doakan juga lembaga ini ya supaya tetap amanah; supaya amil-amilnya istiqomah dalam perjuangan; supaya rizkinya berkah.”

Setelah sang amil kembali ke ruangannya, saya beristighfar dalam-dalam. Ya Allah, ampuni hamba dari setiap kesalahan. Lindungi hamba dari kemunafikan. Cukupkan hamba dengan apa yang Engkau berikan. Sibukkan hamba dengan pikiran dan perbuatan yang Engkau ridhoi. Jaga lembaga ini ya Allah dari fitnah yang akan merusak kebesaran syariat-Mu. END

Add Your Comments

Your email address will not be published. Required fields are marked *

First Name*
Subject*
Email*
Your Comments