• Phone: (021)-7418-607
  • info@imz.or.id
Stay Connected:

Ciputat, 2 Mei 2011 “Seperti itu yang kami inginkan, menjadi percontohan pengelolaan zakat bagi BAZ lainnya di Sulteng,” begitu yang disampaikan Ibu Kalsum Angku, salah satu pengurus Badan Amil Zakat (BAZ) Kota Palu dalam kunjungannya ke Indonesia Magnificence of Zakat (IMZ), sebuah lembaga pengembangan kapasitas pengelola (amil) zakat di Jakarta, Kamis (28/04) siang.

Sebagai salah satu pilar pengentasan kemiskinan di provinsi Sulawesi Tengah, BAZ Kota Palu memiliki potensi yang cukup besar. Selain posisinya yang berada di ibu kota provinsi, dukungan walikota Palu dan performa SDM yang sudah cukup apik secara administratif, dapat membuat BAZ Kota Palu berkembang lebih cepat dari lembaga sejenis di provinsi Sulawesi Tengah.

Namun potensi itu sepertinya belum termaksimalkan bila melihat jumlah dana zakat, infak, sedekah yang berhasil dikumpulkan oleh BAZ Kota Palu setiap bulannya. Meski dibekali Surat Instruksi Walikota untuk mengumpulkan dana zakat, infak, sedekah dari setiap pegawai pemerintah yang beragama Islam di kota Palu, pengumpulan pada tahun 2009 hanya mencapai Rp 167.121.346 atau rata-rata hanya 15 juta rupiah per bulan. Menjelang paruh kedua tahun 2011 ini, pendekatan baru akan coba diterapkan oleh BAZ Kota Palu, berdasar masukan dari IMZ. “Selain pendekatan regulasi dengan surat instruksi maupun perda, pendekatan kultural juga perlu dilakukan. BAZ harus mencoba turun untuk bertemu dengan para muzakki dan calon muzakki secara langsung, melakukan sharing, edukasi atau bahkan sekadar mempertemukan para muzakki dengan mustahik yang dibina oleh BAZ. Inilah yang dilakukan di kota Padang sehingga pengelolaan zakat di masa Fauzi Bahar berkembang pesat,” kata Arif Rahmadi Haryono, salah satu konsultan IMZ. Guna mempersiapkan penerapan pendekatan kultural tersebut, BAZ Kota Palu akan memulainya dengan peningkatan kapasitas dan kualitas SDM agar lebih profesional mengelola dana zakat, infak, sedekah, terutama dalam hal menyusun variasi program yang dapat membangun produktivitas dan kemandirian si miskin. “Karena ilmu manajemen zakat ini tidak ada diajarkan di sekolah, kami harus belajar dari yang berpengalaman,” tutup Ibu Kalsum Angku mantap, menggambarkan tingginya semangat BAZ dalam upaya menyelesaikan berbagai permasalahan kemiskinan di kota Palu, Sulawesi Tengah. (Ari Maulana)

]]>