• Phone: (021)-7418-607
  • info@imz.or.id
Stay Connected:

Ciputat, 10 Agustus 2011

Sebagian masyarakat Bengkulu menyatakan tidak suka membayar zakat kepada lembaga amil yang ada karena kurang percaya dan masih merasa asing. “Saya seumur hidup selalu membayar zakat ke masjid atau langsung dengan orang yang berhak menerimanya. Kalau ke badan amil zakat (BAZ) saya ragu dan tidak percaya,” terang Irawan salah seorang warga Kelurahan Kandang Limun Kota Bengkulu, Selasa (9/8).

Selama ini ia juga tidak pernah mendengar atau membaca hasil laporan lembaga amil baik di media cetak maupun di media elektronik, jadi bukan menuduh takut saja bila zakatnya tidak tepat sasaran. Menurut dia, memberikan zakat secara langsung merasakan kepuasan tersendiri dan keihklasan. Berbeda dengan lembaga amil yang tidak tahu dengan siapa zakat diberikan. Senada dengan Irawan, Suhaimi Alfian warga Kelurahan Rawa Makmur mengaku selama ini ia tidak familiar atau akrab dengan lemabaga amil yang ada termasuk BAZ. “Saya tahu BAZ itu tempat bayar zakat, tapi saya tidak tahu bagaimana mekanisme pemberian zakat dan penerimanya, saya rasa ada baiknya mempopulerkan lembaga itu lebih jauh kepada masyarakat,” jelasnya. Sementara itu Ketua Badan Amil Zakat (BAZ) Provinsi Bengkulu, Alwi Hasbullah, mengimbau masyarakat untuk membayar zakat kepada lembaga resmi yang telah ada, dan tidak perlu membagi dengan cara mengumpulkan orang. “Saya merasa sedih melihat orang berdesak-desakan dan ada anak kecil yang pingsan gara-gara ikut antrean pembagian zakat,” ungkapnya. Jika masyarakat paham akan tugas dan mempercayai lembaga zakat seperti BAZ tidak seharusnya pemandangan yang menyedihkan itu menjadi tontonan. Menurut dia, kelebihan dari membayar zakat di lembaga amil ialah adanya pemerataan pembagian dan lebih ditekankan kepada membuka usaha bukan untuk keperluan konsumtif. “Kalau zakat per orangan yang langsung diserahkan kepada orang yang berhak menerima zakat kebanyakan dihabiskan untuk konsumtif, itu tidak membunuh kemiskinan, tapi malah memelihara kemiskinan,” tambahnya. Pada 2010 BAZ Provinsi Bengkulu hanya mampu mengumpulkan dana sebesar Rp 800 juta melalui unit pengumpul zakat (UPZ) dari para pegawai negeri sipil (PNS). Dana tersebut telah dialokasikan kepada 746 orang sebagai modal usaha sebesar Rp 322 juta, pemberian beasiswa sebanyak 62 orang, bantuan pengobatan dhuafa 11 orang, santunan yatim 163 orang, bantuan pendidikan 56 orang dan bantuan bencana Mentawai, Sumatera Barat sebesar Rp 10 juta. Zakat tersebut didapat dari 32 instansi di lingkungan kerja Pemerintah Provinsi Bengkulu dan 13 instansi vertikal, 95 orang zakat per orangan, dan tiga zakat perusahaan. Dari penelitian BAZ Bengkulu potensi zakat di daerah itu mencapai Rp 20 miliar per tahun. “Sosialisasi dan pendekatan kepada masyarakat serta menumbuhkan pemahaman pentingnya BAZ akan terus kita lakukan,” demikian Alwi.

Sumber : republika.co.id

 

]]>