• Phone: (021)-7418-607
  • info@imz.or.id
Stay Connected:

Ciputat, 15 April 2011

Kesehatan merupakan kebutuhan yang sangat penting dan mendasar untuk manusia. Namun, bagi masyarakat kelas bawah kesehatan adalah barang yang sangat mahal. Sulitnya akses untuk mendapatkan layanan kesehatan membuat mereka hanya bisa berpasrah diri dengan sakit yang diderita tanpa penanganan medis yang layak. Pada tahun 2001, Dompet Dhuafa mendirikan Layanan Kesehatan Cuma-Cuma (LKC) untuk memberikan akses layanan kesehatan yang layak dan optimal secara gratis bagi kaum dhuafa. Saat ini lebih dari 440 ribu kaum dhuafa telah terlayani oleh LKC. Dalam perjalanannya, di tahun 2007. Dompet Dhuafa bekerjasama dengan Masjid Agung Sunda Kelapa mendirikan Rumah Sehat Sunda Kelapa dan tercatat 200 ribu kaum dhuafa sudah mendapatkan layanan ini secara cumacuma. Dompet Dhuafa menyadari betapa besarnya volume masyarakat yang membutuhkan layanan kesehatan. Untuk itu, Dompet Dhuafa oerinisiasi membangun Rumah Sehat Terpadu (RST). RST ini berada di atas lahan wakaf seluas 7.803 meter persegi di Desa Jampang Kecamatan Kemang, Bogor, Jawa Barat. Sebuah terobosan besar yang akan membangun kepedulian bersama. RST adalah sebuah model rumah penyembuhan yang memberikan pelayanan kesehatan secara cuma-cuma untuk kaum dhuafa. Layanan yang diberikan kepada pasien dengan pendekatan kehangatan keluarga, kecepatan layanan, kecepatan profesionalitas, dan dengan sentuhan hati. Tujuannya, meningkatkan jumlah pelayanan kesehatan kepada masyarakat miskin, mengintegrasikan seluruh layanan kesehatan ke dalam satu manajemen Rumah Sehat Terpadu, mengurangi biaya rujukan pasien ke Rumah Sakit Pemerintah serta membangun paradigma pelayanan kesehatan profesional non-profit. Dalam penyelenggaraan program berbasis sosial ini, RST memiliki delapan kekhasan, yaitu Pertama, pelayanan tidak berbayar. RST memberikan pelayanansecara cuma-cuma alias gratis. Pasien yang berhak menerima pelayanan adalah keluarga miskin dengan sistem member atau kepesertaan, serta RST tidak boleh menolak pasien dari mana pun terlebih lagi dalam keadaan darurat. Kedua, sebagai tempat rujukan yang berciri khas (sehat dan terpadu), RST menjadi tempat rujukan dari klinik tingkat dasar. Ketiga, menggunakan pendekatan pengobatan dengan metode terpadu; terpadu dengan menyembuhkan aspek fisik, rohani dan sosial dari manusia dan lingkungannya, terpadu dalam metode pengobatan karena menggunakan metode konvensional, traditional, komplementer/herbal dan akupunktur. dan terpadu dari satu atap pelayanan kepada pasien baik dalam gedung atau luar gedung (family handling). Keempat, pelayanan dokter keluarga, karena member RST berbasis keluarga kurang mampu/miskln, maka setiap dokter berkewajiban melakukan penyuluhan dengan memberikan pengetahuan proaktif, holistik berorientasi komunitas dengan titik berat padakeluarga pasien. Kelima, melakukan upaya promotif preventif di area cakupan wilayah kerja yang ditentukan. Keenam, melakukan pengembangan asuransi masyarakat miskin dengan menginvasi sistem asuransi kesehatan di area kerja dengan mengoptimalkan budaya lokal yang ada. Ketujuh, melakukan kemitraan atau kerjasama dengan Puskesmas dan Jamkesmas dalam rangka optimalisasi peran kerja Puskesmas di daerah. Dan terakhir, behavior organization yaitu bagaimana RST membangun karakter SDM kesehatan yang unggul dan memiliki perilaku yang baik dalam menunjang program kesehatan masyarakat miskin. Kini, RST yang sedang dalam tahap pembangunan, siap mengangkat derita kaum dhuafa yang selama ini masih menjadi polemik besar bangsa kita. Kena sama semua pihak merupakan hal terpenting dalam menggapai kesuksesan pembangunan RST, yang pada awal Ramadhan 1432 H nanti akan siap menerima pasien pertama dari kaum dhuafa.

Sumber : bataviase.co.id

]]>