• Phone: (021)-7418-607
  • info@imz.or.id
Stay Connected:

Jakarta, 28 Februari 2011

Tanpa disadari, seringkali kita bersentuhan dengan hal-hal yang dapat membahayakan kesehatan tubuh. Polusi, limbah, pemakaian pestisida dalam pertanian, dan pemanasan global menyebabkan bermacam penyakit yang merugikan kehidupan. Hidup dengan menggantungkan diri pada bahan-bahan kimiawi, justru berpotensi membunuh diri sendiri. Unsur pembunuh itu adalah residu pestisida kimia sintesis dalam makanan yang dihasilkan dari budidaya pertanian yang tidak ramah lingkungan.

Residu pestisida kimia sintesis yang terdapat dalam bahan pangan yang dikonsumsi akan terakumulasi dalam tubuh kita dan dapat membahayakan kesehatan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa bahan aktif yang bersifat racun dari pestisida kimia sintesis tidak terbuang ke luar tubuh, tetapi terakumulasi di dalam jaringan dan dapat memicu timbulnya kanker, penurunan kesuburan, gangguan fungsi syaraf, kerusakan hati, ginjal, dan paru-paru.

Beras sebagai bahan pangan utama yang dikonsumsi setiap hari sangat berpotensi mengandung residu pestisida berbahaya. Untuk menghasilkan produk beras sehat dan bebas dari residu pestisida kimia sintetis, dibutuhkan kualitas lingkungan yang baik dan cara berbudidaya yang ramah lingkungan. Proses untuk mewujudkan prasyarat tersebut membutuhkan waktu dan keseriusan dalam menjalankannya. Lembaga Pertanian Sehat (LPS) Dompet Dhuafa sejak 1999 telah melakukan beberapa upaya untuk ikut serta mewujudkan pertanian sehat ramah lingkungan tersebut.

LPS memang dibuat untuk melindungi dan meneruskan program pemihakan khusus pada petani, yang sebagian besarnya adalah dhuafa. Pada lahan sekitar 40 ha, Dompet Dhuafa melakukan model pemberdayaan petani dengan mengemas program Pertanian Bebas Pestisida. Bukan hanya itu, LPS mengembangkan Pemberdayaan Petani Sehat (P3S) dengan memberikan subsidi pupuk, saprotan dan teknologi tepat dan ramah lingkungan yang sangat mendukung lahan pertanian. Tanah garapan diberikan secara cuma-cuma dalam setahun. Bukan hanya lahan, LPS sesungguhnya juga melaksanakan serangkaian program dalam pembentukan komunitas petani sehat dan teknologi ramah lingkungan berbasis teknologi lokal.

Upaya ini menjadi menarik karena hasil yang dipetik kalangan petani semakin baik dari hari ke hari dan lahan yang dipakai semakin sehat dan subur berkat pertanian sehat. Sejak tahun 2000 Desa Ciburuy, Cinagara, Cigombong, Caringin dan Cijeruk di kawasan Bogor malahan sudah dikenal luas mayarakat sebagai produsen beras dan sayuran sehat. Selama 2009 Dompet Dhuafa telah mendukung aktivitas LPS dengan dana sebesar Rp. 600 juta dan kini menjangkau aktivitas di 4 provinsi.

Ada 3 program terpadu yang diselenggarakan LPS untuk mendukung aktivitas bertani sehat. Program Hulu, dilakukan dengan melakukan serangkaian penelitian, perakitan, dan mengembangkan sarana produksi pertanian yang berbasis sumber bahan baku lokal, murah, mudah dan ramah lingkungan.

Program Menengah, berupa program sosialisasi teknologi budidaya tanaman yang ramah lingkungan atau dikenal dengan Teknologi Pertanian Sehat. Program Pemberdayaan Petani Sehat (P3S) telah dilaksanakan pada 8 kluster, yaitu: Bogor, Banyuasin, Brebes Utara, Brebes Selatan, Serang, Tegal dan Subang dengan membina 1.480 petani yang tergabung dalam 123 Kelompok Tani Sehat (KTS) dan 13 Gabungan Kelompok Tani Sehat (Gapoktan Sehat).

Program Hilir, dilakukan dengan mendesain produk pertanian yang memiliki nilai tambah dan membuka jaringan pasar bagi produk pertanian tersebut. Jaringan pasar yang sudah terbentuk adalah pasar beras Sehat Aman Enak (SAE), pupuk organik (OFER), media tanam (TOP SOIL), dan benih padi unggul (CAP PETANI) yang terus mendapatkan sambutan pasar.

Di daerah dataran tinggi seperti Bogor dan Cianjur, dengan pengairan yang masih memadai dan lingkungan alam yang asri, para petani dibina dan didampingi untuk melaksanakan sistem pertanian ramah lingkungan. Dilandasi filosofi memberi manfaat pada alam agar lingkungan pun memberi manfaat kepada manusia, mereka diajarkan teknologi ramah lingkungan yang sederhana. Setelah beberapa musim, petani dapat menuai hasil berupa peningkatan produktivitas dan kualitas hasil panen, penurunan biaya produksi, perbaikan kualitas lahan dan padi sehat yang bebas residu kimia berbahaya. Semua daya upaya itu tak lain akan mendorong keberdayaan petani di ladang garapan mereka sendiri yang harus dipelihara keberlanjutannya.

Sumber : jasainternetmarketing.com

]]>