• Phone: (021)-7418-607
  • info@imz.or.id
Stay Connected:

SEMESTINYA ada optimisme yang tumbuh jika melongok besarnya anggaran pendidikan yang mencapai tak kurang Rp. 300 miliar. Dalam data yang diunduh dari Kementrian Keuangan tahun 2012, anggaran pendidikan yang ditransfer kepada pemerintah daerah jumlahnya bahkan mencapai Rp. 186,439 miliar. Dana tersebut mencakup Dana Alokasi Khusus Pendidikan, gaji pendidik, dana otonomi khusus, tunjangan keprofesian guru, hingga Bantuan Operasional Sekolah. Diunduh dari situs Kementrian Keuangan bertarikh 11 Juli 2013 (http://www.anggaran.depkeu.go.id/dja/edef-seputar-list.asp?apbn=tani) Sayangnya, dengan anggaran sebesar itu, karut marut yang melanda dunia pendidikan kita tak jua mereda. Bahkan mungkin jika kita mau menelusuri jalan-jalan kecil di pelosok negeri niscaya kita akan menemukan realita pendidikan negeri ini – yang sayangnya sangat jauh dari narasi indah pejabat Jakarta. *** MENYUSURI sungai Sambas, Kalimantan Barat menjadi pengalaman eksotis buat kami. Saya dan teman saya ini memang lahir dan tumbuh di lingkungan megapolitan Jakarta. Kabupaten Sambas adalah tanah pertama pulau Kalimantan yang kami pijak. Kami pun tak terbiasa dengan pemandangan transportasi air yang lazim ditemukan di bumi Borneo ini. Menggunakan mesin standar 125cc, “motor air” (demikian penduduk setempat menyebutnya) sanggup menampung hingga 50-an penumpang dan sederet motor. Betul, anda tidak salah membacanya, motor. Sekali angkut, rerata satu perahu mampu menampung hingga 10 motor dan berkardus-kardus barang keperluan hidup lainnya yang ditaruh di bagian atap. “Pernah kelebihan beban trus kebalik itu motor air” kisah Pak Ali, seorang guru di Dusun Senabah. Siang itu motor air tidak terlalu ramai. Dengan tarif Rp. 10,000/orang, kami menaiki satu-satunya transportasi menuju Dusun Senabah. Menurut pengakuan penduduk setempat, untuk mencapai Dusun Senabah bisa juga via jalur darat, namun cukup berbahaya karena jalan yang licin dan keluar-masuk hutan lebat. Di sisi kiri-kanan berderet rumah-rumah penduduk dengan fondasi kayu di sepanjang pinggir sungai. Anak-anak terlihat bermain riang di sungai. Mengetahui akan saya foto, beberapa anak terlihat pasang aksi melompat riang ke sungai bak sedang melakukan satu adegan di film gubahan John Woo. Air sungai Sambas sejuk namun keruh coklat dan tidak berbau. Saya sempat menyeka wajah dengan air sungai meski tak berani meminumnya. Penduduk lazim menggunakannya untuk kebutuhan sehari-hari seperti mandi, mencuci pakaian dan MCK. Tak heran, sepanjang sungai anda akan menemukan jamban di pinggiran sungai. Biasanya penduduk menggunakan pipa bambu yang ditanam dalam tanah sehingga tidak mencemari air. Sementara untuk minum, penduduk menampung air hujan. Bagi banyak warga, air kemasan galon terlalu mewah. *** SETELAH 3 jam perjalanan, sampailah kami di tempat tujuan, tepatnya di Dusun Senabah Desa Semanga, Kecamatan Sejangkung Kabupaten Sambas, Kalimantan Barat. Kontur desa tersebut cukup unik, ia tidak melingkar pada satu titik pusat, namun ia memanjang hingga 1,7 kilometer mengikuti alur sungai Sambas. Rumah pak Ali Widodo yang kami tumpangi terletak di hampir ujung hilir desa. Di tengah-tengah desa terdapat SDN 16 Senabah, masjid dusun, dan sebuah PAUD yang baru saja resmi berdiri satu tahun belakang. Di SD ini kami sempat bertatap-muka dengan kepsek yang baru 3 bulan menjabat. Pak Alwan namanya. Beliau sebenarnya bukan penduduk asli dusun. Tempat tinggalnya sekitar 4-5 jam perjalanan melalui jalur sungai. Karena pertimbangan efektifitas kerja dan efisiensi waktu, beliau memutuskan untuk tinggal di base camp, dan pulang seminggu satu kali. Terdengar keren, padahal yang dimaksud base camp adalah ruangan seluas 10×10 meter yang sejatinya adalah ruang kelas. Disitu ia tidur bersama seorang pemuda asal NTB yang sedang mengikuti program Sekolah Guru Indonesia, inisiasi dari lembaga zakat Dompet Dhuafa. Syahrul namanya. “Saya ga bisa tidur klo ga ada mas arul. Begitu juga mas arul ga akan bisa tidur klo ga ada saya” terkekeh geli beliau menceritakan soal “kenyamanan” tidur di base camp. “Ngeri bang klo malam” Arul menjelaskan maksud kalimat pak Kepsek kepada saya. Di sisi timur tembok base camp tergantung baju-baju dinas hingga baju santai mereka berdua. Di sisi barat sederet kompor dua tungku dan kardus berisi bumbu-bumbu masak jika sesekali mereka lapar. Satu set sofa butut dan tiga kursi khas sekolah tersedia untuk menerima tamu-tamu seperti kami. Ia sodorkan sekaleng makanan ringan kepada tamunya yang datang mendadak ini “Gedung ini umurnya belum sampai setahun, tapi kondisinya sudah retak di mana-mana. Saya ga tahu dulu waktu (mem)bangun bagaimana?” matanya trenyuh melihat langit-langit yang sudah terlihat keropos. Ia lalu menunjuk ke satu sisi tembok gedung yang sudah retak dari atas hingga lantai. Gedung yang ia maksud merujuk pada bangunan base camp yang juga bersebelahan dengan ruang kelas VII SD-SMP satu atap. Sederet lantai keramik yang telah “telanjang”, cat yang sudah mengelupas dan memudar di bagian lainnya, atap genting yang berantakan seperti habis terkena angin ribut, saya pikir usia bangunan sudah menyentuh angka 5 tahun. Saya tak percaya ketika Kepsek menyatakan umur bangunan belumlah satu tahun. Untuk membuktikannya, ia mengajak kami melihat prasasti bangunan yang dengan jelas terpatri: Kami terpana, tapi berusaha tidak menampakkannya. Terlampau sering saya mendengar berita “penyunatan” anggaran pendidikan dan infrastruktur di daerah, tetapi melihatnya secara langsung tetap membuat kegeraman ini membuncah. Saya telan kegeraman itu dan melanjutkan mengambil beberapa gambar. “Jangan ambil saya dari sisi ini mas, malu keliatan jelek-(bangunan)nya”. Lagi-lagi Pak Kepsek berusaha mencairkan suasana dengan candanya. Saya menangkap senyum itu kecut, tidak riang. *** “PAK Presiden pucat” ujar saya ke teman. Kami tersenyum menyimak gambar foto diri Presiden yang memang sudah memudar. Lama tak diganti, gumam saya. Apa warga tak sanggup membeli potret diri pak Presiden yang lebih baru dan “segar”? Pemikiran saya menerawang. Sanggup. Saya yakin. Hanya saja banyak hal lain yang perlu diprioritaskan: buku pelajaran siswa, kelulusan UN, atau soal kesejahteraan guru, begitu kira-kira naruni saya mencoba menetralisasi pikiran negatif. Toh, warga Jakarta, terutama elitnya, juga melakukan hal yang sama, memprioritaskan keperluan dirinya sendiri dahulu. Daerah, apalagi yang jauh nan di pelosok itu urusan belakangan. Berani ngaku? Senabah (10-14 Juni 2013) Ciputat (11 Juli 2013) Oleh: Arif R. Haryono ]]>

Add Your Comments

Your email address will not be published. Required fields are marked *

First Name*
Subject*
Email*
Your Comments