• Phone: (021)-7418-607
  • info@imz.or.id
Stay Connected:

Jakarta-11 Maret 2011

Belum tuntas bangsa ini berbenah diri atas segala kemelut yang membelenggu nasib tenaga buruh kita di negeri rantau, kita malah harus miris melihat pemberitaan sosok Darsem yang terancam hukuman pancung di negeri orang, karena tervonis kasus pembunuhan.

Sebagian kita mungkin sudah bosan dan enggan mendengar kasus yang terus-menerus menimpa TKI. Mulai dari kasus pembunuhan, perkosaan, penyiksaan, pelecehan seksual, sampai dikebirinya gaji mereka. Setiap tahun, selalu ada saja kasus serupa.

Darsem memang terbukti membunuh. Tapi Darsem tidak akan melakukannya bila tidak terpaksa. Ulah sang majikan yang berniat memperkosa, membuat Darsem membela diri. Jika saja Darsem tidak melakukan perlawanan, penodaan terhadap hak perempuan, TKW khususnya, akan menambah panjang deretan kasus pemerkosaan TKW di luar negeri. Sementara hukum belum tentu memihak mereka.

Darsem hanyalah warga awam yang berasal dari kampung pedalaman Desa Patimban, Kecamatan Pusakanagara, Kabupaten Subang, tidak mengerti banyak tentang hukum, dan tidak mengerti bagaimana keluar dari problematika yang kini mengancam nyawanya. Ibu muda, berusia 25 tahun pada 20 April nanti ini, meninggalkan anak dan suami tercinta ke Arab Saudi untuk mengubah nasib, sekarang malah harus mencari dana Rp 4,7 miliar untuk membayar diyat. Jangankan untuk waktu singkat, seumur hidup pun rasanya tidak mungkin dia mengumpulkan uang sebanyak itu.

Di saat nyawa Darsem berada di ujung kertas lembaran rupiah, warga Indonesia, baik dari kalangan ibu-ibu, mahasiswa, tukang becak, ojek, dan lain-lain bahu membahu membantu penderitaan Darsem.Seakan ada keterikatan batin, dengan segera mereka beraksi turun ke jalan mengumpulkan koin demi koin. Meski sulit terkumpul hingga angka miliaran, namun fenomena kebersamaan dan kepeduliaan bangsa ini ternyata masih sangat kentara.

Berbekal kardus bekas, warga di sejumlah daerah turun ke jalan mengumpulkan rupiah dari pengguna jalan. Selasa kemarin misalnya, kaum ibu dari Kota Tangerang turun ke jalan mengampanyekan aksi solidaritas Darsem dengan mengumpulkan kepingan rupiah. Hanya semangat persaudaraanlah yang bisa menggerakkan hati mereka untuk membantu.

Selasa, 8 Maret lalu adalah Hari Perempuan Sedunia. Semangat untuk membebaskan jeratan hukum Darsem pun menjadi momen tersendiri dan simbol keprihatinan masyarakat atas penindasan dan masih besarnya sikap diskriminasi serta komodifikasi terhadap buruh rantau yang mayoritas adalah perempuan.

Kasus Darsem hanyalah satu dari rentetan kasus Tenaga Kerja Indonesia yang kian menghimpit permasalahan bangsa. Sejumlah upaya dan penanganan yang dilakukan pemerintan pun seakan tidak menemukan jalan keluar, kehilangan akal dan bahkan badan yang berbasis pada pelayanan dan perlindungan TKI pun tumpul dan berkarat di saat mencuatnya kasus dari buruh migran.

Untuk kesekian kalinya pula, pemerintah kita terkesan lamban merespons kasus yang menimpa warganya di luar negeri. Untuk mengumpulkan uang “tebusan” saja masih harus menunggu waktu yang cukup lama, bahkan didahului oleh dermawan luar negeri yang sebenarnya tidak punya pertalian khusus dengan Darsem. Mungkin inilah Darsem, gambaran dari keadilan yang tidak lagi berpihak kepada kaum marjinal.

Sumber : bataviase.co.id

]]>