• Phone: (021)-7418-607
  • info@imz.or.id
Stay Connected:

Fatchuri Rosidin (IG @fatchuri_fatah)

Direktur Inspirasi Melintas Zaman

Orang-orang sukses itu punya ciri. Bukan fisiknya, bukan garis tangannya, tapi kebiasaannya. Steven Covey menemukan 7 kebiasaan efektif pada orang-orang sukses. Thomas Stanley merilis 100 faktor kesuksesan. Kebiasaan-kebiasaan efektif merajai sepuluh besarnya. Maka memiliki kebiasaan-kebiasaan efektif menjadi mimpi banyak orang.

Pertanyaan yang paling banyak diajukan pada saya di kelas-kelas pelatihan pembentukan kebiasaan adalah: apa saja kebiasaan orang-orang sukses? butuh berapa lama membentuk kebiasaan itu? Kali ini, saya akan menjawab pertanyaan kedua.

Kita mulai dari seorang dokter bedah plastik bernama Maxwell Maltz yang mengamati perilaku pasien-pasiennya yang diamputasi. Ia menemukan bahwa pasien-pasiennya butuh waktu setidaknya 21 hari untuk beradaptasi dengan kehilangan anggota tubuhnya. Maltz menyimpulkan, manusia butuh waktu sedikitnya 21 hari untuk membentuk kebiasaan baru.

Philippa Lally, seorang peneliti psikologi kesehatan dari University College London, juga tertarik melakukan eksperimen untuk mengetahui berapa lama waktu yang dibutuhkan agar terbentuk habit atau kebiasaan. Hasilnya bervariasi tergantung kompleksitas kebiasaannya. Paling cepat 18 hari. Paling lama 254 hari. Rata-ratanya 2 bulan. Tepatnya 66 hari.

Kalau ingin membentuk kebiasaan baru yang positif, bersiaplah untuk melakukannya setidaknya 21 hari. Amannya 2 bulan. Kalau kebiasaannya sulit, butuh waktu lebih lama lagi. Pertanyaannya: siapkah kita selama itu? Sabarkah kita? Dibutuhkan kesungguhan hati dan kesabaran untuk melakukannya. Akan lebih ringan jika kita melakukannya bersama orang lain.

Umat Islam di seluruh dunia baru saja menyelesaikan latihan panjang pembentukan kebiasaan secara massal. Bersama-sama dengan 1 milyar orang lain. Bukan sembarang kebiasaan, tapi kebiasaan yang kerap ditemukan pada orang-orang sehat dan sukses: bangun tidur lebih awal, menjaga pola makan sehat, mengisi waktunya dengan produktif, menghilangkan kegiatan sia-sa, dan melatih empati dengan berbagi. Itulah kebiasaan yang dibentuk selama Ramadhan.

Beruntungnya umat Islam. Allah mengkondisikan suasana agar umatnya punya kesempatan memperbaiki kebiasaan hidup. Suasananya mendukung untuk melakukan banyak kebaikan. Pahala dilipatgandakan. Sarana ibadahnya tersedia. Momentumnya banyak. Benchmark-nya ada dari nabi Muhammad. Tak sulit untuk melakukannya.

Maka Ramadhan tahun ini saya yakin banyak yang mencatat prestasi. Ada yg menamatkan al-Quran sekian kali, tahajud rutin setiap malam, atau sedekah yang begitu ringan tangan dilakukan. Ada yang bisa menghentikan kebiasaan buruk, mengurangi konsumsi makanan, dan menerapkan pola hidup yang sehat. Dan di ujung bulan, kita merayakan prestasi ini. Padahal, ujian sebenarnya baru dimulai.

Kita baru melewati fase pertama pembentukan kebiasaan yang 21 hari itu. Baru melewatinya sedikit. 30 hari. Belum cukup kuat untuk menetap jadi kebiasaan. Kita perlu mencapai waktu rata-rata terbentuknya kebiasaan: 2 bulan.

Hari-hari pertama bulan Syawal biasanya kita bangun di jam yang sama dengan kebiasaan di Ramadhan. Itu jejak pembentukan kebiasaan tahap pertama. Itu biological clock yang tersimpan di memori otak kita. Sayangnya kita hanya bangun untuk mematikan alarm dan tidur lagi. Seminggu dirusak, hilang sudah kebiasaan. Juga kebiasaan menjaga menu makan sehat dan pola makan. Sebulan pembentukan dihancurkan dalam pesta lebaran.

Itulah mungkin hikmahnya kita dianjurkan berpuasa 6 hari di bulan Syawal. Lebih utama di hari ke 2 sampai ke 7 Syawal. Supaya kebiasaan yang terbentuk di Ramadhan tidak dirusak. Seminggu pasca Ramadhan itu saat kritis hilang atau bertahannya kebiasaan. Kita perlu menjaganya sepanjang bulan Syawal agar genap menjadi 2 bulan. Di situlah kita akan menuai habit baru.

Nabi Muhammad bahkan mencontohkan hal yang luar biasa. Dua bulan sebelum Ramadhan, pembentukan kebiasaan itu sudah dimulai. Ia mengurangi tidur, memperbanyak ibadah, sedekah, dan amal-amal positif lainnya seraya berdoa, “Ya Allah, berkahilah kami di bulan Rajab dan Sya’ban, dan sampaikan kami hingga Ramadhan.”

Jadi, jika ingin memiliki kebiasaan-kebiasaan sukses, umat Islam perlu mencontoh Nabinya. Jangan larut dalam euforia lebaran. Cukup satu hari. Setelah itu, lanjutkan kembali kebiasaan positifnya: tidur lebih awal, bangun dini hari, ketuk pintu Tuhan dengan ibadah, isi waktu dengan produktif, hindari perkataan dan perbuatan sia-sia, dan banyaklah berbagi dengan sesama. END

Manajemen & Staff IMZ Mengucapkan Selamat Hari Raya Iedul Fitri 1441 H, Mohon Maaf Lahir Bathin

Inspirasi Melintas Zaman (IMZ Consulting) merupakan lembaga social enterprise yang membantu organisasi bisnis dan sosial di bidang leadership, pengembangan SDM dan pemberdayaan masyarakat berbasis nilai-nilai spiritual.

 

 

Fatchuri Rosidin (IG @fatchuri_fatah)
Inspirational Director Crossing the Ages
Successful people have characteristics. Not the physical, not the palm, but the habit. Steven Covey discovered 7 effective habits in successful people. Thomas Stanley released 100 success factors. Effective habits rule the top ten. So having effective habits becomes the dream of many people.
The question most asked to me in habit formation training classes is: what are the habits of successful people? how long does it take to form the habit? This time, I will answer the second question.
We start from a plastic surgeon named Maxwell Maltz who observes the behavior of his amputated patients. He found that his patients needed at least 21 days to adapt to the loss of his limbs. Maltz concluded, humans need at least 21 days to form new habits.
Philippa Lally, a health psychology researcher from University College London, is also interested in conducting experiments to find out how long it takes to form a habit. The results vary depending on the complexity of the habit. 18 days at the fastest. Maximum 254 days. 2 months on average. Exactly 66 days.
If you want to form positive new habits, be prepared to do so for at least 21 days. 2 months safe. If the habit is difficult, it takes even longer. The question: are we ready for that long? Are we patient? It takes sincerity and patience to do it. It will be lighter if we do it with other people.
Muslims throughout the world have just completed a long training in mass habit formation. Together with 1 billion other people. Not just any habit, but habits that are often found in healthy and successful people: wake up early, maintain a healthy diet, fill their time productively, eliminate vain activities, and practice empathy by sharing. That is the custom that was formed during Ramadan.
Fortunately for Muslims. God conditions the atmosphere so that his people have the opportunity to improve their living habits. The atmosphere supports to do a lot of good. The reward is multiplied. Means of worship available. Lots of momentum. The benchmark is from the prophet Muhammad. Not difficult to do it.
So this year’s Ramadan I am sure many have recorded achievements. There are those who complete the Koran many times, the annual recitation of the night, or alms that are so light-handed. Some can stop bad habits, reduce food consumption, and adopt a healthy lifestyle. And at the end of the month, we celebrate this achievement. In fact, the real test has just begun.
We have just passed the first phase of forming the 21-day habit. Just passed it a little. 30 days. Not strong enough to stay a habit. We need to reach the average time of habit formation: 2 months.
The first days of Shawwal we usually wake up at the same time as is the custom in Ramadan. It was a trace of the formation of the first stage of habits. That biological clock is stored in the memory of our brains. Unfortunately we only wake up to turn off the alarm and sleep again. Broken a week, lost is a habit. Also the habit of maintaining a healthy diet and eating patterns. A month of formation was destroyed at the feast of Eid.
That may be the wisdom we are encouraged to fast 6 days in Shawwal. More important on days 2 to 7 Shawwal. So that habits that form in Ramadan are not damaged. The week after Ramadan was a critical moment of missing or enduring habits. We need to keep it throughout the month of Shawwal so that it even becomes 2 months. That’s where we will reap new habits.
The Prophet Muhammad even gave an extraordinary example. Two months before Ramadan, the formation of the habit had already begun. He reduced sleep, increased worship, alms, and other positive deeds while praying, “O Allah, bless us in the month of Rajab and Shaytan, and deliver us until Ramadan.”
So, if you want to have successful habits, Muslims need to imitate the Prophet. Do not dissolve in the euphoria of Eid. One day is enough. After that, continue the positive habits again: sleep early, wake up in the morning, knock on the door of God with worship, fill time productively, avoid vain words and deeds, and share a lot with others. END
Cross Age Inspiration (IMZ Consulting) is a social enterprise institution that helps business and social organizations in the fields of leadership, human resource development and community empowerment based on spiritual values.

Add Your Comments

Your email address will not be published. Required fields are marked *

First Name*
Subject*
Email*
Your Comments