• Phone: (021)-7418-607
  • info@imz.or.id
Stay Connected:

Ciputat, 18 Nopember 2011

Mohammad Akbar

Sebanyak 20 dai mengikuti pelatihan “Dai Pemberdaya” yang digagas Indonesia Magnificence of Zakat (IMZ) dan Laznas BSM. Pelatihan berlangsung pada 14 hingga 17 November 2011 di Desa Buana Jaya, Kecamatan Tanjung Sari, Kabupaten Bogor. Para dai muda itu dibekali keterampilan untuk melakukan perubahan sosial dengan pendekatan religius. Menurut Kepala Divisi Pendayagunaan Laznas BSM, Dedi Zulkarnaen, dengan program ini, peran mereka akan lebih optimal. Sebab, nantinya mereka tidak hanya mengajarkan ibadah ritual kepada jamaah binaannya, tetapi juga mensyiarkan Islam sebagai ajaran yang menjunjung tinggi kemandirian. Seusai pelatihan, jelas dia, mereka akan kembali ke daerah masing-masing. Mereka diminta mengamati keadaan masyarakatnya dan mengidentifikasi kebutuhan serta masalah apa saja yang sebaiknya diatasi. “Kalau persoalan ekonomi dianggap hal yang krusial, misalnya, itu akan menjadi program,” katanya, di Jakarta, Kamis (17/11). Direktur IMZ Nana Mintarti mengungkapkan, saat ini muncul kecenderungan dai itu bersifat entertain atau tablig saja. Di sini, pihaknya mencoba melibatkan dai untuk menggerakkan perubahan. Dai yang mengikuti pelatihan, jelas dia, berasal dari ormas-ormas Islam dan Lembaga Amil Zakat (LAZ). Mereka dibekali pengetahuan mengenai manajemen program. Ilmu ini dapat menuntun dai mempunyai kemampuan menganalisis apa yang sebenarnya diperlukan masyarakat. Hasil analisis inilah yang selanjutnya sebagai acuan bagi dai membuat program. Nana mengatakan, dai yang bergabung dalam program ini berusia maksimal 35 tahun dan dengan tingkat pendidikan mininal sarjana. Batasan pendidikan dan usia sengaja diterapkan demi efektivitas pembekalan program. Setelah dibekali keterampilan, mereka kembali ke tempat masing-masing. Mereka diminta mengamati permasalahan di sekitar tempat tinggalnya serta merumuskan solusinya kemudian dituangkan dalam proposal. “Lima proposal terbaik akan kami biayai,” ujar Nana. Ia menjelaskan, untuk memperkuat umat, tidak selamanya harus menggelontorkan bantuan dalam bentuk uang. Tetapi, perlu juga diketahui apa yang masyarakat butuhkan dan mencari solusi atas persoalan umat.

 

Sumber : republika.co.id

]]>